Jakarta, PONTAS.ID – Perusahaan taksi terbesar di Indonesia, Blue bird Group, mengumumkan secara resmi penggunaan mobil listrik sebagai armada terbarunya.
Menanggapi hal itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mengapresiasi upaya elektrifikasi Blue Bird. Menurut Jonan, pihaknya akan membantu mengembangkan sarana transportasi berbasis listrik.
“Sebenarnya ini pemerintah agak malu karena kita bikin Perpres itu setahun lebih,” kata Jonan di Jakarta, Senin (22/4/2019).
Usaha Blue Bird meluncurkan taksi listrik diketahui lebih dulu ketimbang Perpres yang sudah dikoordinasikan dengan berbagai kementerian sejak tahun lalu. Hingga Pemilihan Presiden yang dilakukan pada 17 April, Perpres yang dimaksud belum juga terbit.
Jonan meminta Blue Bird berkoordinasi dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) terkait pengadaan stasiun pengisian fast charging. Menurut Jonan, PLN akan mendirikan setidaknya 2 ribu unit Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) pada tahun ini.
“Saya sangat menyarankan, karena ini baru, jadi sebaiknya pengadaan mobil listriknya itu yang kualitasnya kelas satu karena kalau misalnya kita mencoba spek down [menurunkan spesifikasi] awal-awal begini nanti kalau ada gangguan malah pelanggannya kurang,” ucap Jonan.
Sebelumnya, Perusahaan taksi terbesar di Indonesia, Blue bird Group, mengumumkan secara resmi penggunaan mobil listrik sebagai armada terbarunya. Ada dua model mobil listrik yang digunakan, yaitu MPV BYD e6 sebagai taksi reguler Bluebird dan SUV Tesla Model X 75D sebagai taksi eksekutif Silverbird.
Blue Bird menyediakan 25 unit e6 dan lima unit Model X sebagai tahap awal. Operasional mobil listrik yang masuk dalam divisi e-Taxi ini bakal mulai melayani masyarakat pada 1 Mei 2019 atau tepat saat Blue Bird berusia 47 tahun.
Pada 2020, Blue Bird berencana menambah hingga 200 unit mobil listrik. Lantas pada 2025, perusahaan identik warna biru ini ingin mengoperasikan 2 ribu unit mobil listrik.
Saat itu terjadi, pihak Blue Bird menjelaskan 21.704.760 kg emisi karbon dioksida (CO2) akan dikurangi. Emisi itu setara dengan pemakaian bahan bakar minyak sebanyak 94.909.091 liter.
Menurut Blue Bird penggunaan mobil listrik ini berkaitan dengan program ketahanan dan bauran energi listrik nasional serta program mengurangi penggunaan dan subsidi bahan bakar minyak.
“Bertepatan dengan hari bumi, kami meluncurkan taksi listrik pertama di Indonesia. Pilot project kami menyediakan 30 unit mengusung tema ‘birukan langit jakarta’,” kata Presiden Direktur Blue Bird Group Holding Noni Purnomo.
Blue Bird memulai bisnis dengan mengoperasikan taksi pertama Holden Torana bermesin 6-silinder 2.834 cc karburator pada 1972. Pada zamannya, taksi ini belum punya power steering dan pendingin kabin serta menggunakan ‘argo jewer’ dan alat komunikasi radio konvensional.
Sejak saat itu Blue Bird sudah pernah gonta-ganti jenis mobil berbagai merek, mulai dari Nissan, Toyota, Hyundai, hingga Hyundai, termasuk juga mengoperasikan taksi berbahan bakar gas pada 1990an. Bisnis juga telah berkembang hingga melahirkan Golden Bird, Big Bird, dan Silver Bird.
Direktur Blue Bird Tbk Adrianto Djokosoetono menjelaskan sebelum ada upaya perusahaan menghadirkan taksi listrik, dirinya ditanya oleh pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Perhubungan, “Apa yang perusahaan taksi bisa lakukan untuk mengurangi emisi?”
“Selama setahun kemudian kami menghadap ke lebih dari lima instansi … untuk membuat rencana yang pada hari ini kami selesaikan menjadi realisasi,” kata Adrianto.
“Kami harap ini dapat diikuti pelaku transportasi lainnya. Kami masih perusahaan taksi terbesar, 36 ribu unit, sehingga kami mempunyai tanggung jawab menjadi katalis dan membuat kendaraan listrik dalam skala ekonomi sehingga bisa membuat dampak pada industri kita,” ucap Adrianto lagi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mengatakan pihaknya bakal mendukung pengoperasian taksi listrik. Jonan bahkan bilang mempersilakan Blue Bird berkordinasi dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk memasang stasiun fast charging di markas Blue Bird di kawasan Mampang, Jakarta Selatan.
“Berunding saja dengan PLN, bisa 25 menit. Kalau fast charging-nya 6 jam, ini baru 30 unit, nanti kalau 3 ribu unit setengah mati,” kata Jonan.
Jonan juga bilang agar usaha baru ini dikembangkan. Dia menyoroti kemudahan pengadaan taksi listrik karena tidak kena bea masuk dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).
Penulis: Luki Herdian
Editor: Risman Septian




























