SERGAI, PONTAS.ID – Kisruh antara nelayan tradisional dari Serdang Bedagai (Sergai) dengan nelayan yang mempergunakan pukat trawl atau pukat Harimau, yang umumnya berasal dari Pagurawan (Batubara) kerap terjadi di laut.
Hal ini diungkapkan oleh Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia) Kabupaten Sergai, Zulham ketika diwawancarai awak media ini di bantaran Sungai Bedagai terkait adanya penganiayaan yang dilakukan nelayan tradisional kepada nelayan pukat trawl pada bulan Nopember 2021 lalu, Senin (20/12/2021).
“Kami dari KNTI Sergai sangat menyayangkan kejadian ini bisa terjadi, mengapa bisa terjadi penganiayaan seperti ini, kami berharap, nelayan tradisional melakukan tindakan yang persuasif dengan cara kekeluargaan, bukan dengan cara penganiayaan,” kata Zulham.
Ke depannya, lanjut Zulham pihaknya dari DPD KNTI Sergai akan melakukan sosialisasi terhadap nelayan tradisional agar sepakat mencegah tindakan main hakim sendiri.
“Mereka itu kan juga nelayan, sama dengan kita (nelayan tradisional) dan mereka melaut itu juga untuk menafkahi anak istrinya, jadi untuk apa kita melakukan kekerasan. Sosialisasi akan kita lakukan di Pantai Cermin, sebab kita juga mempunyai pengurus KNTI di sana. Kita akan bangun komunikasi dengan para nelayan tradisional, dengan tujuan agar Sumut kondusif, khususnya di kabupaten Sergai,” papar Zulham.
Ia menjelaskan, tidak ada aksi provokasi dalam kejadian ini, sebab penganiayaan itu terjadi murni akibat gesekan terkait zona tangkap yang dilangar oleh nelayan pukat trawl dengan tegas Ketua KNTI Sergai mengatakan, “Kasus ini terjadi dengan spontanitas, dikarenakan soal zona tangkap yang dilanggar oleh pukat trawl sehingga timbul gesekan di tengah laut,” imbuh Zulham.
Sementara itu, menyoal apa yang dituntut nelayan tradisional pada saat Parade Sampan Hari Nusantara yang lalu, yakni tentang BBM bersubsidi, KNTI belum mendapat tanggapan dari Dinas Perikanan Kelautan (Diskanla) Sergai.
“Belum ada rekomendasi kepada nelayan, Intinya, Diskanla Sergai hingga saat ini tak ada komentar apapun dan terkesan bungkam,” tutup Zulham.
Penulis: Andy Ebiet
Editor: Rahmat Mauliady
















