Hadapi Terorisme, RI Bisa Adaptasi Strategi CTAP Selandia Baru

Satuan Anti Teror Polri Densus 88

Jakarta, PONTAS.ID – Alumnus Master of Strategic Studies Victoria University of Wellington, New Zealand, Komisaris Polisi (Kompol) Malvino Edward Yusticia, menegaskan, dibutuhkan kecepatan dan ketepatan strategi penanganan aksi-aksi terorisme.

Hal itu ia sampaikan terkait penyerangan diduga dilakukan teroris melalui bom bunuh diri di Gereja Katedral Makasar, Minggu (28/3/2021) lalu. Kemudian serangan yang oleh polisi disebut lone wolf atau penyerangan seorang diri dilakukan perempuan bersenjata pada, Rabu (31/3/2021) lalu.

Dua kejadian tersebut, menurutnya, telah menyita perhatian publik nasional maupun internasional. Aksi terorisme dalam bentuk serangan seorang diri dengan senjata maupun bom bunuh diri di Indonesia terus akan bergerak menyebarkan ketakutan pada seluruh lapisan Indonesia.

“Hal ini menunjukkan bahwa dua serangan teror ini harus dipandang sebagai sesuatu yang siap mengancam kita kapan saja,” tutur Malvino, dalam keterangan pers, Sabtu (10/4/2021).

Lebih lanjut, Malvino mengatakan, kebijakan penanggulangan terorisme di Indoensia diemban oleh BNPT sebagai amanah dari Perpres No 46 Tahun 2010.

“Sejak tahun 2010, BNPT telah menyusun kebijakan, strategi, dan program dalam hal penanggulangan terorisme hingga saat ini. Namun pada sisi yang lain, terorisme di Indonesia terus bertumbuh,” kata Malvino.

Malvino melanjutkan, berdasarkan informasi dari Densus 88 AT, jumlah tersangka terorisme setiap tahunnya selalu mencapai 100-200an orang setiap tahunnya tanpa ada indikasi penurunan jumlah pelaku terorisme di tanah air setiap tahunnya.

“Artinya, program, kebijakan, dan strategi yang ditawarkan oleh BNPT sejak tahun 2010 tidak berkorelasi langsung dengan adanya penurunan jumlah pelaku terorisme di Indonesia,” jelas Alumnus Master of Strategic Studies Victoria University of Wellington, New Zealand dan saat ini sebagai salah satu Peserta Didik Sespimmen Polri Dikreg Ke-61 TA 2021) tersebut.

Secara garis besar, dijelaskannya, berdasarkan UU No. 5 Tahun 2018 Tentang Penanggulangan Tindak Pidana Terorisme terdapat dua pokok utama strategi penanggulangan terorisme, yaitu Penegakan Hukum dan Pencegahan Deradikalisasi.

Dalam aspek penegakan hukum, sekilas dievaluasi, maka dapat dikatakan berada dalam posisi yang cukup optimal. Hal ini dapat diperlihatkan dari kuantitas penangkapan melalui strategi Preventive Strike yang dilakukan oleh Polri yang berkisar di angka 100-200an tersangka setiap tahunnya.

Namun, dalam pelaksanaan pencegahan dan deradikalisasi, pelaksanaannya belum efektif. Hal ini dibuktikan dengan adanya 60-an mantan napiter yang melakukan pidana terorisme kembali sejak tahun 2015 dan masih banyaknya orang-orang yang tergabung dalam kelompok terorisme yang tersebar di Indonesia.

“Jadi, jika berkaca pada pengalaman Selandia Baru, maka kunci dari penanggulangan terorisme adalah kecepatan dan ketepatan strategi. CTAP yang diimplementasikan oleh Selandia Baru mampu untuk mendorong seluruh institusi sosial dan politik untuk saling terhubung dalam visi pencegahan dan penaggulangan terorisme,” katanya.

Menurutnya, ketepatan strategi dalam CTAP juga selalu dipastikan dalam bentuk pelibatan akademisi dan Universitas dalam memformulasikan, mengimplementasikan, hingga mengevaluasi program yang dilaksanakan.

Di Indonesia, lanjutnya, melalui BNPT sejak terjadinya dua peristiwa teror pada Maret dan April lalu, seharusnya juga membentuk reaksi dan strategi tepat sehingga peristiwa yang sama tidak terjadi kembali di kemudian hari.

“Reaksi tersebut harusnya dapat dimulai dengan mengevaluasi seluruh program, kebijakan, dan strategi yang telah dilaksanakan dalam penanggulangan terorisme,” imbuh Malvino.

“Dengan evaluasi tersebut, maka pembentukan strategi baru penanggulangan terorisme dapat diformulasikan kembali sehingga strategi nasional dalam penanggulangan terorisme dapat berlangsung lebih komprehensif, tepat sasaran, dan terintegrasi sebagaimana CTAP yang diimplementasikan di Selandia Baru saat ini telah berhasil membawa banyak perubahan,” tutupnya.

Penulis: Luki Herdian

Editor: Riana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here