Jakarta, PONTAS.ID – Ancaman terbesar dari perusahaan teknologi media sosial sejak awal tahun 2020 adalah maraknya hoax (berita palsu) seputar Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).
Dampak media sosial bagaimanapun, telah menambah masalah baru seperti, simpang siur metode penyembuhan, klaim yang menyesatkan hingga munculnya teori konspirasi tentang wabah tersebut.
“Masih ada ketidak pahaman warganet antara apa yang dianggap benar dengan apa yang ingin dibagikan (sharing),” ungkap spesialis otak dan ilmu kognitif di MIT Sloan School of Management, Profesor David Rand, seperti dikutip dari AFP, Senin (30/3/2020).
“Dalih postingannya ‘akan disukai banyak orang’ menjadi alasan utama saat berbagi informasi,” imbuhnya.
Untuk itu, Rand mengharapkan komitmen yang lebih serius dari para perusahaan teknologi medsos tersebut untuk menghentikan kesalahan informasi yang meluas secara masif. “Saatnya Facebook, Twitter, dan perusahaan lain untuk mengubah apa yang dilihat orang di layar,” terangnya.
Dari sebuah studi terhadap 1.600 peserta, disimpulkan bahwa klaim palsu dibagikan hanya karena warganet tersebut tidak mampu memahami apakan postingan itu dapat dipercaya.
Dalam tes kedua, ketika orang diingatkan untuk mempertimbangkan keakuratan dari apa yang akan mereka bagikan, tingkat kesadaran akan kebenaran warganet meningkat lebih dari dua kali lipat.
“Ini adalah hal-hal yang membuat konsep keakuratan menjadi prioritas utama orang,” kata Rand.
Terpisah, Jason McKnight, asisten profesor klinis di Departemen Perawatan Primer dan Kesehatan Populasi di Texas A&M University, mengatakan berbagi informasi palsu memiliki dampak di luar risiko langsung dari virus itu sendiri.
“Saya telah melihat postingan terkait dengan ‘perawatan’ yang tidak terbukti, teknik untuk mencegah penyebara infeksi yang tidak terbukti bahkan diisi dengan banyak informasi yang menyesatkan, hingga imbauan untuk menimbun persediaan makanan,” kata Jason.
Jason juga menyoroti dua jenis bahaya yang ditimbulkan oleh informasi yang tidak akurat tentang virus, bahwa virus itu dapat memicu rasa takut atau panik serta berpotensi bagi yang tidak memahami untuk melakukan hal-hal berbahaya dengan harapan menyembuhkan maupun mencegah penyakit.
“Seperti di Iran, informasi obat palsu metanol dilaporkan telah menyebabkan 300 kematian serta sebagian besar sisanya masih dalam perawatan karena mengonsumsi metanol,” tutup Jason.
Penulis: Pahala Simanjuntak
Editor: Riana Agustian




























