2020, Rasio Elektrifikasi di Papua Ditargetkan 99,9 Persen

PLN

Jakarta, PONTAS.IDPT PLN (Persero) menyiapkan strategi untuk meningkatkan rasio elektrifikasi khususnya Papua, karena di Papua Barat rasio elektrifikasinya lebih tinggi dari Papua.

“Sebagai bagian dari NKRI, wilayah Papua juga harus terang. Dengan demikian jika nanti Papua sudah seluruhnya terang, maka berarti program Papua Terang di tahun 2018 sudah mengacu untuk menjadikan Indonesia Terang” kata Executive Vice President Pengembangan Regional Maluku-Papua PLN, Eman Prijono Wasito Adi, dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (8/10/2019).

Menurutnya, agar wilayah Papua bisa mengejar ketertinggalan dari provinsi lainnya dalam hal tingkat elektrifikasi, diperlukan program percepatan penerangan di wilayah tersebut.

“Untuk menjadikan tahun 2020 Rasio Desa Berlistrik (RDB) di Papua menjadi 100%, PT PLN telah merencanakan lebih dari 899 desa dengan jumlah rumah yang akan dilistriki sekitar 63.930, di Papua dan Papua Barat,” papar Eman.

Dia juga menjelaskan, hingga saat ini, di Papua dan Papua Barat sudah ada 111 sistem kelistrikan yang terdiri dari 16 sistem kelistrikan besar (di atas 2 megawatt) dan 95 sistem kelistrikan kecil untuk yang kapasitasnya di bawah 2 mw.

Dengan sistem kelistrikan itu, di Papua dan Papua Barat sudah terdapat daya mampu sebanyak 327,65 mw sedangkan beban puncaknya hanya sekitar 280,88 mw.

Sedangkan, tingkat rasio elektrifikasi PLN sampai dengan Agustus 2019 di kedua provinsi itu kini mencapai 57,93% yang berasal dari tingkat elektrifikasi di Papua sebanyak 48,3 % dan Papua Barat 91,50%.

Ia melanjutkan, PLN berencana pada tahun 2020 rasio elektrifikasi di Provinsi Papua dan Papua Barat sudah 99,9%. Sementara saat ini rasio elektrifikasi PLN atau tingkat pemasangan listrik di Indonesia, per September 2019 sudah mencapai 98,86%.

Upaya meningkatkan rasio elektrifikasi di Papua, diakui Eman masih terhambat oleh masalah geografis berupa lokasi desa yang berjauhan dan minimnya jalur transportasi darat dan laut. Agar bisa mencapai rasio elektrifikasi lebih tinggi lagi, Eman menjelaskan kalau PLN tidak bisa berjalan sendirian.

“Berdasarkan survei yang dilakukan melalui program EPT tahun 2018, ada salah satu perangkat dalam rangka pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang ditawarkan, yakni Tabung Listrik (Talis), alat penyimpanan energi (energy storage) yang juga berfungsi seperti power bank, digunakan untuk melistriki rumah,” papar Eman.

Selain menggunakan potensi sumber pembangkit listrik yang ada di desa, PLN juga telah menyiapkan program penggunaan aliran listrik melalui tabung listrik. Tabung listrik ini merupakan hasil kerja sama PLN dengan Universitas Indonesia (UI).

Adapun fungsi dari tabung listrik itu adalah menyimpan daya listrik yang nantinya bisa digunakan masyarakat untuk menerangi rumah atau desanya.

Sebuah tabung listrik yang berbobot sekitar 5 kilogram, bisa menampung daya listrik sebesar 300 watt hour (Wh) hingga 1.000 Wh. Penggunaannya pun cukup mudah, pemilik hanya tinggal memilih sistem AC atau DC dan tinggal dihubungan dengan kabel lampu.

Sedangkan, jika jika daya listriknya sudah habis, pemilik bisa men-chargenya di PLTS, mikrohidro, pikkohidro, PLTA ataupun pembangkit listrik biomassa.

“Talis lebih hemat dan mudah digunakan,” kata Eman.

Dengan menggunakan Talis, masyarakat bisa berhemat dalam pemasangan jaringan listrik karena biaya pembelian dan pemasangan listrik dengan menggunakan Talis hanya sekitar Rp3,5 juta. Sedangkan, jika menggunakan menggunakan jalur konvensional, tarifnya biasa lebih dari Rp 4 juta.

Penulis: Riana

Editor: Luki H

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here