Jakarta, PONTAS.ID – Peternak Rakyat Broiler sedang mengalami kedukaan yang sangat mendalam. Pasalnya harga ayam hidup (Livebird) sejak Oktober 2018 terus mengalami penurunan harga yang signifikan hingga saat ini.
Dari keterangan dari sumber dilapangan yang diterima PONTAS.id, per hari ini (18/6/2019), Harga ayam hidup di Jawa Tengah mencapai Rp 8.000 per ekor per kilogram, di Jwa Barat Rp 12.000 per ekor per kilogram, padahal biaya produksinya sekitar Rp 19.000 per ekor per kilogram.
Sudah banyak hal yang dilakukan Peternak Rakyat untuk mengadukan nasibnya kepada pemerintah. Demo pun berkali kali hingga ke istana negara. Namun, hingga saat ini belum kunjung ada perubahan yang berarti.
Guntur Rotua, seeorang peternak cerdas di Bogor berinisiasi ditengah tengah rasa frustasinya, membuat sebuah Petisi yang ditujukan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia untuk turun tangan, mengharap keberpihakannya untuk menyelematkan Peternak Rakyat.
“Perjuangan kita melalui organisasi organisasi peternakan seperti menemui jalan buntu dan hanya diberi janji janji ketika meeting di Kementerian Peternakan (KEMENTAN),” dalam keterangan resminya, Senin (18/6/2019).
Dalam petisi tersebut, meminta presiden Joko Widodo untuk melindungi usaha peternakan rakyat dengan:
1. Membuat peraturan presiden yang melindungi peternak rakyat. Untuk mengganti permentan no 32 tahun 2017 yang tidak tegas.
2. Melakukan evaluasi terhadap kinerja kementan dan team asistensi kementan
3. Membuat peraturan presiden tentang batas atas dan bawah harga farm gate yang memuat sanksi bagi pelaku usaha yang melanggar. Untuk mengganti permendag no 96 tahun 2018
4. Melakukan evaluasi terhadap sistem kuota ggps yang justru memperkuat oligopoli olah 4 perusahaan besar saja. Kuota Ggps ini justru menjadikan input harga doc dan harga pakan antara peternak rakyat dan perusahaan terintegrasi menjadi semakin besar. Sehingga persaingan bisnisnya menjadi makin tidak adil. Dengan performa produksi yang sama kami tidak bisa melawan hpp integrator.
5. Membuat sektor budidaya broiler masuk daftar negatif investasi.
“Kita menagih janji bapak yang akan pro UMKM. Untuk mengevaluasi kinerja Kementan sebelum membentuk kabinet baru. Saya minta bapak menunjuk mentri pertanian yang pro UMKM seperti janji bapak. Karena Pemerintah yg berhasil adalah Pemerintah yang menciptakan sejuta UMKM Peternak Rakyat baru. Bukan seperti saat ini yang hanya membesarkan segelintir konglomerat raksasa (karena tidak ada kebijakan yg bisa membela peternak Rakyat). Kita juga menagih janji bapak di Sentul city yang akan memerintah tanpa beban 5 tahun ke depan,” ujar Guntur dalam isi petisinya.
Bukan hanya peternak yang menjerit dengan kondisi harga saat ini, tetapi juga berimbas kerumah tangga para peternak broiler.
Elmy Syarifah, menyampaikan keluh kesahnya sebagai istri seorang peternak ayam broiler. “Saya istri dari seorang peternak mandiri. Saya tidak ingin suami saya jadi emosian. Karena ekonomi Kami yang sedang terpuruk”.
Begitu juga dengan Ibu Syafna Maulida menyampaikan keluh kesahnya sebagai ibu rumah tangga yang mana suaminya seorang pekerja dipeternakan.
“Suami saya kerja dibidang peternakan untuk menghidupi keluarganya, jadi tolong selamatkan peternak rakyat”.
Menurut Guntur, ini hanya contoh jeritan dari para istri para peternak rakyat dan masih banyak lagi yang belum megungkapkan kesediahanya saat ini.
“Kita tidak perlu menunggu anak-anak mereka meluapkan jeritan hatinya. Langkah kecil anda dalam menandatangani petisi ini akan membantu mereka, para peternak rakyat yang saat ini sedang berjuang memperbaiki nasibnya,” ungkap Guntur.
Dari pantaun PONTAS.id, hingga saat ini Petisi sudah ditandatangani 2.354 orang sejak dimulai dari 23 jam yang lalu.
Penulis: Hartono
Editor: Idul HM




























