Insiden Nduga, Kodam Cendrawasih Bantah Pakai Bom Fosfor

Ilustrasi kegiatan TNI

Jakarta, PONTAS.ID – Komando Daerah Militer (Kodam) XVII/Cenderawasih kembali menegaskan bantahan TNI AD soal informasi penggunaan bom fosfor di Yigi, Yal, dan Mbua, Kabupaten Nduga, Papua, beberapa waktu lalu.

“TNI AD dalam operasi itu tidak menggunakan bom, tetapi granat tangan asap,” tegas Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Infantri M Aidi, di Markas Kodam XVII/Cenderawasih Bukit Polimak, Kota Jayapura, Rabu (27/12/2018).

Dalam kegiatan ini, M Aidi turut didampingi Kepala Perlengkapan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel CPL Dwi Soemartono, selaku penanggungjawab urusan berbagai logistik, alat-peralatan, hingga amunisi dan bahan peledak yang ada dalam arsenal dan daftar kesenjataan Kodam XVII. Mereka juga bertanggungjawab menyimpan bahan peledak, memindahkan, hingga menonaktifkan bahan peledak dan rangkaian peledak.

Ditegaskan M Aidi, personel TNI AD di Nduga tidak pernah menggunakan bom sebagaimana diberitakan media internasional yang menurut pihaknya hanya mendapatkan informasi secara sepihak.

“Bahkan, informasi itu ikut disebar oleh oknum warga dan pejabat di Papua tanpa mengecek kembali kebenaranberita yang diterima,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Aidi juga menunjukkan gambar anak seorang pejabat Kabupaten Nduga yang memegang bendera bintang kejora menggunakan akun instagram bernama @rockdoggs.

Untuk itu, pihaknya lanjut Aidi meminta Bupati Nduga, Yairus Gwijangge, mengklarifikasi soal gambar pria yang diduga adalah anak Yairus yang tengah belajar di salah satu perguruan tinggi di luar negeri.

“Jelaskan, foto itu maksudnya apa? Apalagi, selama peristiwa di Nduga, Bupati Yairus Gwijangge, sesuai dengan informasi saya terima, tidak ada di tempat, ” kata Aidi.

Peralatan Standar Infantri
Sementara itu, Soemartono kemudian menunjukkan dan menjelaskan kegunaan granat tangan asap buatan PT Pindad (Persero) serya Grenade Launcher Module (GLM) yang ramai diberitakan.

“Ini granat tangan asap digunakan semua pasukan infantri di lapangan, bahkan di seluruh dunia,” katanya.

Menurut dia, biasanya dipakai untuk penanda lokasi pendaratan helikopter di lapangan, bukan untuk menyerang. Granat tangan asap itu berbahan selongsong alumunium, pemicu dari besi plat tipis, dan tidak mengandung bahan peledak mematikan melainkan hanya memancarkan kabut-asap dengan warna-warna berbeda, sesuai keperluan.

Soemartono juga mengajak wartawan untuk mempraktikkan dan melihat langsung granat tangan asap ketika digunakan di lapangan, “Setelah pin pegunci ditarik atau dilepas, langsung dibuang ke tanah, dan keluarlah asap berwarna,” katanya.

Ia mengatakan, granat tangan asap tidak untuk melukai sebagaimana dituding pihak tertentu. “Jadi, granat tangan asap tidak untuk membunuh, kecuali pelemparan granat tangan asap mengenai orang karena bahannya kan terbuat dari material keras,” pungkasnya.

Penulis: Pahala Simanjuntak
Editor: Hendrik JS

Previous articleArus Balik Natal Tol Japek Capai 85 Ribu Kenderaan
Next articlePemprov DKI akan Ajukan Raperda Pulau Reklamasi di Awal 2019