Menpar Arief: 3 Hal untuk Rebut Pasar Wisatawan Millennial

Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Pawisata (Menpar), Arief Yahya mengisyaratkan untuk merebut pasar wisatawan millennial yang ke depannya diprediksi akan terus tumbuh dan menjadi pasar terbesar, perlu memperhatikan tiga hal yang menjadi potensi millennial.

Hal tersebut disampaikan oleh Arief ketika membuka sekaligus menjadi keynote speaker pada Focus Group Discussion (FGD) II dengan tema bahasan ‘Strategi Pemasaran Yang Efektif Untuk Merebut Pasar Millennial Tourism’ yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Dan tiga hal yang menjadi potensi millennial itu, jelas Arief, yang pertama wisatawan millennial memiliki kebutuhan dan perilaku yang berbeda, dan mereka sangat tergantung pada pada teknologi dan media sosial. Kedua, millennial sebagai segmen yang penting karena size dan influencing powernya yang besar.

Ketiga, perlu pengembangan strategi khusus sebagai suatu inisiatif untuk mengkapitalisasi potensi masa depan indutri pariwisata. Who win the future, wins the game. Needs dan behaviour millennial berbeda, sehingga bentuk pelayanan ke depan one on one,” kata Arief dalam siaran pers Kemenpar, Jumat (26/10/2018).

Dia lantas menjelaskan, maksud dari segmentasi terbaiknya adalah tidak mensegmentasi, karena di era digital saat ini digital menjadi pintu masuk yang dapat mengetahui secara rinci keperluan wisatawan millennial. Namun katanya diperlukan strategi khusus untuk merebut pasar wisatawan millennial.

“Wisatawan millennial merupakan pasar masa depan, dan siapa yang dapat merebutnya akan menjadi pemenang. Diproyeksikan jumlah wisatawan millennial mencapai 34 persen atau sekitar 7 juta dari target 20 juta wisman yang akan kita raih pada tahun depan,” ujar Arief.

Sementara itu Founder & Chairman MarkPlus Inc., Hermawan Kartajaya mengelompokan wisatawan millennial dalam 4 kelompok, yaitu digital/tech savvy (pandai dalam teknologi IT), advocators (mampu mengadvokasi), experience oriented (berorentasi pada pengalaman), dan adventure seekers (pencari petualangan).

“Digital sebagai sarana pembuka. Ada kelompok tech savvy maunya digital saja, tapi banyak pula yang kemudian ingin mencari pengalaman, berpetualangan, atau pun sebagai advokasi. Kelompok advocators ini lebih suka mengunjungi destinasi-destinasi yang paling instagramble, kemudian melakukan selfie dan men-share lewat instragram agar diketahui millennial lain,” kata Hermawan Kartajaya.

Dalam prakteknya 4 kelompok wisatawan millennial mempunyai keinginan berbeda satu sama lain. Misalnya kelompok digital digital/tech savvy yang sangat dipentingkan adalah kecanggihan digital platform, antara lain wifi dan hotspot di destinasi yang dikunjungi harus hebat. Sedangkan kelompok experience oriented dilakukan para guide dalam upaya memberikan pengalaman kepada para wisatawan yang ditangani.

“Kelompok adventure seekers umumnya ingin menemukan autentik lokal yang ada di destinasi yang dikunjungi. Pada prakteknya mensegmentaskan wisatawan millennial belum ada pakemnya sehingga pendekatannya sementara ini menggunakan frame strategi dengan pengelompokan tersebut,” ucap Hermawan.

Kegiatan FGD II merupakan kelanjutan dari FGD I yang yang digelar di Jakarta pada Kamis (18/10/2018) lalu, dengan mengangkat tema ‘Millennials & Disruption, Tantangan Model Bisnis’ yang menampilkan narasumber Prof. Rhenald Kasali, Ph.D dari Founder Rumah Perubahan.

FGD III akan berlangsung di Jakarta pekan depan. Kegiatan FGD ini sebagai upaya penguatan strategi pariwisata dalam merespons millenial tourism, dan dari kegiatan ini diharapkan akan menghasilkan strategi dan rencana aksi.

Editor: Risman Septian

Previous articleKLHK Dorong Aksi Global Penanganan Pencemaran Laut
Next articleMPR Dukung Penuh Pelestarian Hutan Tropis Indonesia