Data Produksi Pangan Sering Dimanipulasi untuk Hindari Rapor Jelek

Panen padi Desa Telangsari Kecamatan Tanjung Lago Kabupaten Banyuasin, Prov Sumatra Selatan.

Jakarta, PONTAS.ID – Data laporan produksi dan lahan pertanian termasuk beras kerap dimanipulasi oleh Pejabat sektoral dan pejabat daerah yang tidak ingin mendapatkan ‘rapor’ jelek karena dinilai gagal meningkatkan produksi pertanian.

Hal tersebut menjadi salah satu faktor penyebab adanya perbedaan data produksi beras dalam negeri yang antara Badan Pusat Statistik (BPS) dengan Kementerian Pertanian (Kementan).

“Memang perbedaan angka dari hasil BPS dan Kementan itu sudah ada sejak lama, saya sendiri tidak berani mengatakan mana yang benar, namun yang resmi diakui dan diterima adalah data BPS,” tutur Ketua Dewan Pertimbangan Partai NasDem Siswono Yudo Husodo saat dihubungi di Jakarta, Selasa, (23/10).

Siswono melanjutkan, tidak akuratnya hasil perhitungan statistik produksi beras dengan kondisi yang sesungguhnya ada di lapangan disebabkan oleh adanya laporan yang keliru dari tingkat bawah. Banyak motif yang menjadi penyebab mengapa pejabat di tingkat bawah cenderung untuk memberi laporan yang tidak akurat.

“Misal, luas tanaman padi 10 hektar dilaporkan 12 hektar, kepentingannya untuk mendapatkan pupuk subsidi, makin luas tentu pupuk yang di dapat kan semakin besar,” paparnya.

Kelebihan pupuk subsidi biasanya akan dijual ke pasar dengan harga umum. Siswono menilai jika seperti ini maka selamanya laporan luas tanam yang ada di lapangan tidak akan sama dengan apa yang dilaporkan ke pemerintah.

“Luas tanah di kabupaten di dapat dari laporan camat, camat dari laporan desa, apakah itu akurat saya meragukan. Laporan tersebut tidak akurat karena banyak kepentingan,” pungkasnya.

Siswono melanjutkan, dengan kemajuan teknologi informasi yang ada saat ini sebetulnya Pemerintah bisa melakukan pemetaan ulang luas lahan tanam yang sebenarnya ada di lapangan. “Dengan bantuan teknologi satelite saya nilai perhitungan akan bisa lebih akurat,” tuturnya.

Data perhitungan terkini menyebut produksi beras RI Hanya 32,4 juta ton. Sementara, konsumsi Indonesia hingga akhir tahun diperkirakan akan mencapai 29,6 juta ton. Artinya surplis berasi Indonesia hanya 2,85 juta ton, sementara Kementan memproyeksi surplus yang jauh lebih tinggi yakni 12,61 juta ton.

Editor: Idul HM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here