Budaya ‘Sedekah Laut’ Batal, SETARA Ingatkan Ancaman Paham ISIS

Direktur Riset SETARA Institute, Halili

Jakarta, PONTAS.ID – Direktur Riset Setara Institute, Halili, menyesalkan peristiwa pembubaran dan perusakan acara Sedekah Laut di Pantai Baru, Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Sabtu (13/10/2018). Sebagaimana diberitakan, acara budaya yang rutin digelar nelayan itu batal dilaksanakan karena digeruduk 50-an orang pria bercadar dan mengobrak-abrik persiapan acara.

“Peristiwa ini menegaskan terjadinya fenomena pengerasan identitas keagamaan dan peningkatan resistensi atas identitas yang berbeda (liyan) di kalangan kelompok-kelompok intoleran dan radikal,” kata Halili melalui keterangan tertulisnya kepada PONTAS.id, Minggu (14/10/2018).

Dari hasil catatan Setara Institute, lanjut Halili, dalam beberapa tahun terakhir, serangan terhadap aktivitas masyarakat dalam rangka melestarikan kebudayaan nusantara telah terjadi secara berulang di beberapa daerah, di Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sebagainya.

Ditambahkan Halili, Riset SETARA di DKI Jakarta dan Bandung Raya (2015-2016) menemukan banyaknya pelajar di sekolah-sekolah menengah atas negeri yang menganggap wajar bahkan mendukung cara-cara kekerasan dan penghancuran yang dilakukan oleh ISIS.

“ISIS sejak awal gerakannya mengglorifikasi panji-panji keagamaan antara lain dengan cara menghancurkan situs-situs kebudayaan dan warisan budaya dunia (world cultural heritage),” imbuhnya.

Penguatan basis sosial konservatisme, radikalisme, dan bahkan ekstremisme kekerasan dengan berbagai dalih keagamaan, mulai dari ‘syirik’, ‘bid’ah’, dan sebagainya, kata Halili, harus diwaspadai dan diintervensi secara preventif. “Gelaran-gelaran budaya tersebut sangat mungkin dibubarkan oleh kelompok-kelompok radikal dan ekstremis,” kata dia mengingatkan.

Dukung Kepolisian
Berkaitan dengan situasi tersebut, lanjut Halili, Setara Institute mendukung penuh langkah-langkah kepolisian untuk menegakkan hukum setuntas-tuntasnya untuk memberikan efek jera bagi pelaku dan kelompoknya.

“Serta yang lebih penting memberikan jaminan rasa aman bagi seluruh warga dalam melestarikan kebudayaan nusantara. Polisi juga harus bertindak proaktif untuk mengantisipasi aneka bentuk gangguan dari kelompok-kelompok intoleran, konservatif, dan radikal.

Lebih jauh Halili mengharapkan pemerintah daerah, baik di tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta maupun Kabupaten Bantul, agar merancang strategi-strategi sosio-kultural untuk mengantisipasi penguatan konservatisme yang dapat mengganggu pelestarian budaya, merusak harmoni dan kohesi sosial, serta melanggar hak dasar seluruh warga atas rasa aman.

“Pemerintah lokal juga harus memastikan bahwa kejadian di Bantul tidak mempengaruhi kondisi psikososial warga agar selalu ‘gumregah’ dalam ‘nguri-uri’ budaya nusantara,” pungkasnya.

Penulis: Pahala Simanjuntak
Editor: Hendrik JS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here