Suriah, PONTAS.ID – Ada banyak kota tua bersejarah di dunia ini. Mulai dari daratan Eropa hingga Asia. Di Tanah Arab misalnya. Banyak bangunan dan tempat yang jadi saksi bisu masa kejayaannya. Begitu juga dengan Aleppo, Salah satu kota di Suriah yang sempat jadi pusat konflik.
Aleppo memiliki nama lain yaitu Halab yang diambil dari bahasa Arab, yakni salah satu kota tertua berpenghuni di dunia. Kota ini juga terdapat dalam teks peradaban Mesir sejak abad 20 sebelum masehi (SM). Berarti Aleppo telah ada sejak zaman kerajaan-kerajaan terdahulu, khususnya yang berada di Timur Tengah. Hal tersebut dibuktikan di kota ini, ditemukan beberapa sisa-sisa kuil dari akhir milenium ketiga SM, ditemukan juga benteng Aleppo yang dijadikan tempat pertahanan selama berabad-abad.
Kemudian, Aleppo menjadi sebuah bagian kota penting sejak periode Helenistik (masa paling berpengaruh bagi kebudayaan Yunani di Eropa dan Asia) dan sebuah pos perdagangan utama bagi pedagang yang lewat di antara Mediterania dan wilayah ini hingga ke timur. Pada akhirnya, kota tersebut berada di bawah Kekaisaran Romawi, dan menjadi lalu lintas para kafilah dagang (rombongan pedagang di padang pasir yang terdiri dari iring-iringan unta) di bawah aturan Byzantium sebuah kota Yunani Kuno.
Kini, suasana Aleppo tidak seindah dahulu. Hampir seluruh bangunannya hancur, akibat konflik berkepanjangan bersama Israel. Beberapa bangunan bersejarah pun ikut luluh lantak, tinggal kepingan bangunannya yang masih bisa dilihat.
Saat ditaklukan oleh pasukan Muslim Arab, yaitu pada masa pemerintahan Khalifah Sulaiman dari Daulah Umayah saat 636 Masehi, dibangunlah sebuah masjid Agung di Aleppo yang sekarang disebut dengan Masjid Umayah. Masjid ini beberapa kali dihancurkan akibat konflik dan perang. Namun karena merupakan peningglan sejarah, masjid tersebut terus dibangun kembali dan mengalami sejumlah perbaikan.
Sejak dulu hingga kini Aleppo memang sering diperebutkan oleh sejumlah penguasa, dan tak heran jika kota ini memakan banyak sekali sejarah. Setelah pembangunan Masjid Umayah pun perebutan kekuasaan di Aleppo masih berlanjut, yaitu seperti Hitit (2000 SM), Mesir dan Asiria (abad ke-8 SM), Persia (abad ke-6 SM), Macedonia (332 SM), Romawi (64 SM), Arab (635 M), Tatar (1260), Mongol (1398), Kesultanan Utsmaniyah (1517 M), dan Perancis (1920 M).
Setelah Suriah merdeka, Aleppo berkembang menjadi pusat industri utama yang menyaingi ibu kota Damaskus. Penduduknya terus meningkat, mulai dari 300 ribu menjadi sekitar 2,3 juta penduduk pada 2005.
Saat ini penduduk Aleppo, terdiri dari mayoritas Muslim Sunni yang didominasi orang Arab. Namun di antaranya adalah orang Kurdi dan Turkman. Kota tersebut juga memiliki populasi terbesar dari orang-orang Kristen di Suriah, termasuk terdapat orang Armenia, serta masyarakat Syiah dan Alawit.




























