Sijuk Heritage Belitung Jadi Model Pengembangan Desa Wisata Multikultural

Jakarta, PONTAS.ID – Desa Sijuk Heritage di Tanjung Kelayang, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dijadikan model dalam mengembangkan desa wisata yang memiliki daya tarik wisata multikultural berbasis pentahelix.

Oleh karena itulah pihak Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menginisiasi program revitalisasi Desa Sijuk Heritage, yang melibatkan kekuatan unsur pariwisata pentahelix meliputi kalangan akademisi, pebisnis, komunitas, pemerintah, dan media.

Saat melakukan kick off kerja sama Kemenpar, Universitas Indonesia (UI), dan PT Propan Raya di Desa Sijuk Heritage, Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI, Prof. DR. Andrianus L.G. Waworuntu mengatakan bahwa revitalisasi ini sebagai upaya mendukung destinasi Tanjung Kelayang yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai satu diantara 10 Destinasi Pariwisata Prioritas.

“Awalnya, kami melakukan penelitian kemudian ditingkatkan sebagai program Penelitian dan Pengabdian Masyarakat bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Pemda Belitung serta kini didukung industri dan media sebagai kekuatan pentahelix pariwisata,” kata Andrianus dalam siaran pers Kemenpar, Senin (25/2/2019).

Revitalisasi Desa Sijuk Heritage, menurut Andrianus, sangat penting dalam mendukung program pengembangan destinasi pariwisata prioritas Tanjung Kelayang, Belitung.

“Desa Sijuk Heritage ini bagian dari daya tarik wisata budaya yang dalam fortopolio bisnis pariwisata nasional mempunyai porsi terbesar 65%, sedangkan alam 30%, dan buatan manusia 5 persen,” ujarnya.

Dia menambahkan, bahwa dari program revitalisasi tersebut yang terpenting adalah permberdayaan dan keterlibatan masyarakat setempat dalam menyongsong pariwisata.

Hal senada juga disampaikan Bupati Belitung, H. Sahani Saleh yang mengambarkan kebangkitan masyarakat Belitung, dalam menyongsong pariwisata seperti ‘mengangkat kayu yang terendam’.

“Selama ini masyarakat Belitung terlena dengan tambang timah dan sumber daya alam lainnya. Kami terperangah ketika Film Laskar Pelangi karya novel Andrea Hirata yang tayang pada 2008 sukses menampilkan keindahan alam wisata Belitung. Ini menjadi awal bangkitnya kesadaran masyarakat Belitung terhadap pariwisata dan industri kreatif,” kata Sahani.

“Dari sisi sejarah, Desa Sijuk ini sudah lama dikenal masyarakat mancanegara. Dalam catatan sejarah, pelayaran Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok, pernah singgah di pelabuhan muara sungai Sejuk. Laksama yang beragama Islam itu membangun Kelenteng dan Masjid tua di Sijuk,” tambahnya.

Sementara itu Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Multikultural, Esthy Reko Astuti mengatakan sebanyak 60 bangunan heritage (rumah Melayu) di Desa Sijuk akan direvitalisasi.

“Tahun lalu, kami mulai merevitalisasi 5 rumah khas Melayu sebagai pemicu dan kami lanjutan tahun ini sebanyak 20 rumah dengan melibatkan komunitas masyarakat setempat serta produsen cat nasional dalam proram CSR,” tutur dia.

Desa Sijuk Heritage, menurut Direktur PT Propan Raya DR Yuwono Imanto, akan dimasukkan dalam jaringan ICCN yang anggotanya kini ada di 150 di tingkat kota, kabupaten, dan desa.

“Untuk mendukung daya tarik desa wisata multikultural, industri kreatif perlu dikembangkan di Desa Sijuk Heritage,” ucap Yuwono.

Untuk diketahui, kunjungan wisatawan ke Belitung pada 2017 tercatat sebanyak 379.274 wisatawan terdiri atas 9.358 wisatawan mancanegara (wisman) dan 369.916 wisaatawan nusantara (wisnus).

Wisman yang berkunjung ke Belitung berasal dari lima negara pasar utama meliputi Malaysia, Singapura, Korea Selatan, China, dan Jepang. Selain itu dari Australia, India, Amerika Serikat, dan Jerman.

Sementara itu untuk meningkatkan kunjungan wisman, Belitung sendiri menggelar event pariwisata unggulan antara lain Festival Tanjung Kelayang 2018, Pesta Nelayan di Desa Padang Kandis, serta Wisata Pantai Tanjung Pendam, dan Patung Dewi Kwam Im di Vihara Tertua di Belitung.

Editor: Risman Septian

Previous articleBerantas Narkoba di Tebingtinggi, Wali Kota Buka Sosialisasi P4GN
Next articlePerundingan RCEP ke-25, Momentum Menuju Penyelesaian Perjanjian