Jakarta, PONTAS.ID – Berita tentang kondisi laut di Nusa Penida, Bali yang banyak sampah sangat memprihatinkan. Setelah seorang warga negara asing mengunggah video bawah lautnya yang dipenuhi banyak sampah plastik. Namun, kini kondisinya berangsur membaik.
Video seorang wisatawan asal Inggris Rich Horner yang merekam kondisi bawah laut Nusa Penida, Bali disorot banyak orang. Dalam videonya di Manta Point, salah satu lokasi diving populer di sana dipenuhi botol dan bungkus makanan plastik.
Sontak, video ini pun mengundang banyak reaksi, dari dalam negeri hingga media asing. Bagaimana tidak, video yang diunggah lewat akun Facebook Horner pada 3 Maret lalu itu memperlihatkan sampah-sampah tersebut hingga mengambang di atas permukaan laut.
”Begitu banyak plastik!,” kata Horner dalam akun Facebook-nya tersebut. Meski demikian, Horner memberikan keterangan tambahan bahwa saat dia menyelam di lokasi yang sama keesokan harinya, dia tidak lagi menjumpai lautan sampah tersebut. Ia pun menyatakan sampah plastik tersebut bisa saja terbawa arus hingga ribuan kilometer dan berasal dari Asia Tenggara.
Berdasarkan informasi, pihak pengelola di Nusa Penida sempat mengatakan bahwa video tersebut berlebihan.Walau tak memungkiri memang banyak sampah yang ada di perairah Nusa Penida, tapi jumlahnya tak sebanyak itu. Pemerintah pun terus berkoordinasi untuk atas sampah di laut ini.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan, sampah plastik di laut tersebut adalah tanggung jawab bersama, karena bisa berasal dari mana saja.
”Terkait sampah plastik di laut, Presiden Joko Widodo pada G20 Summit tahun 2017 di Jerman telah menyampaikan komitmen bahwa Indonesia akan mengurangi limbah melalui reduce-reuse-recycle sebanyak 30 persen. Dan menargetkan pengurangn sampah plastik di laut sebanyak 70 persen pada 2025,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Rosa Vivien Ratnawati.
Rosa menambahkan, mengatasi sampah yang ebrada di perairan memang bukan perkara mudah. Ocean Foundation telah melakukan sejumlah percobaan, seperti memasang jaring dan menghisap sampah, namun butuh biaya tak sedikit.
”Karena itu, upaya pencegahan sangatlah penting. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak masyarakat tak sembarangan membuang sampah plastik atay styrofoam sembarangan,” imbuhnya.
Berdasarkan uji coba pengurangan sampah plastik yang dilakukan dengan pola plastik berbayar, terjadi penurunan penggunaan kantong plastik hingga 55 persen di pusat perbelanjaan.




























