Jakarta, PONTAS.ID – Berdasarkan Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata), maka pola operasi militer TNI baik pada masa damai maupun masa perang menggunakan paradigma Defensif-Aktif. Artinya, pola operasi tidak ditujukan untuk tujuan menyerang negara lain tapi ditujukan untuk bertahan dari serangan negara manapun. Meskipun pemikian, pola operasi pertahanan tidak bersifat pasif, melainkan harus aktif.
Hal ini disampaikan Pengamat Militer Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati terkait dengan anggaran alutsista.
Wanita akrab disapa Nuning melanjutkan, meskipun proses pemilihan dan pengadaan Alutsista tersebut sudah menggunakan mekanisme yang benar, tetapi negara lain sebagai produsen Alutsista juga tidak selalu bisa menjual produk Alutsista yang kita butuhkan.
“Beberapa kali proses pemilihan dan pengadaan Alutsista menginginkan produk yang betul-betul baru tetapi kenyataan yang ada ternyata hanya tersedia produk bekas,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (5/10/2024).
Nuning yang juga dosen di Universitas Pertahanan (Unhan) ini menilai, produk alutsista yang baru memiliki harga yang sangat mahal dan proses konstruksi bisa 4 sampai 5 tahun.
“Itulah mengapa kita terpaksa membeli Alutsista bekas. Tuntutan waktu dan alokasi anggaran acapkali lebih menonjol dibandingkan mutu Alutsista.
Oleh karenanya kita harus mampu membeli Alutsista yang kita butuhkan sesuai dengan kemampuan anggaran dan ketersediaan dari negara produsen. Pada akhirnya kemandirian produksi Alutsista merupakan elemen vital dalam mencapai efektifitas Sishankamrata. Dibutuhkan Riset yang berkelanjutan untuk inovasi produk Alutsista di masa mendatang,” kata wanita pernah menjadi Anggota DPR ini.























