Pasca OTT Bupati Novi, Partai Pengusung Belum Ambil Sikap

Tatit Heru Tjahjono Ketua DPC PDI Perjuangan dan juga ketua DPRD Nganjuk.

Nganjuk, PONTAS.ID – Pasca terjaring OTT (Operasi Tangkap Tangan) Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan Dit Tipikor Bareskrim Polri atas dugaan kasus jual beli jabatan dilingkungan Aparatur Sipiil Negara (ASN).

Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) yang telah mengusung Novi Rahman Hidayat dan Marhaen Djumadi sebagai Bupati dan wakil Bupati Nganjuk, saat ini belum menentukan sikap, apakah meminta Bupati Novi mengundurkan diri atau memberhentikan.

ketua DPC Hanura, Raditya Harya Yuangga  mengatakan bahwa saat ini pihaknya lebih mengedepankan praduga tidak bersalah, dan lebih cenderung menunggu hasil putusan tetap dari pengadilan atas kasus yang menimpa Bupati Novi.

“Sampai saat ini, partainya belum mempunyai inisiatif untuk minta Bupati Novi agar lebih fokus dalam persoalan yang menimpa dirinya dengan melakukan pengunduran diri,” kata Raditya Harya Yuangga ketua DPC Hanura kepada Pontas.id di Nganjuk.

Di sisi lain, hal yang sama juga disampaikan Tatit Heru Tjahjono Ketua DPC PDI Perjuangan. Pihaknya saat ini memilih menunggu putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) dari pengadilan atas kasus yang menimpa Bupati Novi.

“Proses hukum yang menyeret Bupati Novi saat ini masih berjalan. Karena itu kita tunggu putusan hukum telah mempunyai kekuatan tetap dari pengadilan,” ujar Tatit yang juga ketua DPRD Kabupaten Nganjuk kepada pontas.id.

Sekedar diketahui, Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat terjaring operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK dan Dit Tipikor Bareskrim Polri pada Minggu (9/5/2021) malam.

Penangkapan dilakukan setelah Bupati Nganjuk melakukan syuting vidio dengan tema Wisata Seni dan Budaya di halaman Pendopo Kabupaten Nganjuk sejak Minggu (9/5/2021) pagi.

Menurut sumber pontas.id, selesai syuting Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidhayat sempat menjamu makan para kru rumah produksi dari Yogyakarta tersebut.

Dan sore itu diduga ada Camat dan Kades yang datang bertemu dengan Bupati Nganjuk di rumah dinas Pringgitan.

Dan diduga mereka mengantar uang tunai sekitar Rp 700 juta, namun tiba-tiba sejumlah orang ikut masuk yang ternyata KPK dan Bareskrim Polri.

 

Penulis : Dhanny.
Editor    : Agus Dwi Cahyono.

Previous articleHarga Jagung Mahal, Kementan Lakukan Hal Ini
Next articleHaji Batal, MPR Minta Jokowi Turun Tangan Lobby Raja Saudi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here