Jakarta, PONTAS.ID – Dampak yang harus dihadapi negara-negara di dunia dalam menghadapi pandemi Covid-19 selain selain krisis kesehatan, ancaman krisis ekonomi secara Nasional menjadi permasalahan yang dialami banyak negara di dunia.
Hampir semua negara melaporkan penurunan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Dalam situasi terburuk, kondisi penurunan ekonomi itu bisa menuju pada terjadinya resesi ekonomi.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB Prof Dwi Andreas Santosa mengatakan, Indonesia pada kuartal IV-2019, pertumbuhan ekonomi sudah negatif terjadi dan ditambah kuartal I sampai dengan III tahun 2020.
” Kuartal ke IV tahun 2020 saya juga pastikan akan menurun, dan ketahanan pangan juga pasti akan terus menurun hingga 2021. Menurunnya Ketahanan pangan ini tak perlu dikawatirkan berlebihan. Indonesia Tidak akan mengalami krisis pangan seperti yang digembor-gemborkan oleh banyak pengamat,” ujar Dwi Andreas dalam konfrensi PERS Wibinar yang dilaksanakan Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), Kamis (17/09/2020).
Menurutnya hal itu didasari oleh peningkatan ekspor secara global terus mengalami peningkatan, itu menandakan bahwa perdagangan dunia tidak tergaggagu akibat pandemi covid-19, termasuk indonesia.
“memang Selama 4 tahun terakhir untuk ekspor sektor pertanian indonesia masih belum keliatan, justru impor terus megalami pelonjakan, dan disinilah tugas pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang berpihak untuk melindungi para sektoral pertanian,” ungkap Dwi
Ia juga megigatkan pemerintah, bahwa tahun ini produksi padi akan menurun hingga 2 juta ton yg bersal dari produksi nasional.
“Tetapi saya melihat penurunan pangan ini tidak perlu dikhawtirkan, dan masih relatif aman,” ujarnya.
Diwaktu yang sama, Anggota Komisi IV DPR RI, Mindo Sianipar mengatakan, Stok pangan nasional masih dalam keadaan aman, Namun tetap pemerintah harus tetap waspada.
Mindo juga meminta kepada pemerintah, dalam kondisi pandemi seperti ini, bahwa pemerintah melalui Perum Bulog perlu agar membuat perjanjian terlebih dahulu dengan pihak luar agar ketika ketika membtuhkan beras bisa langsung di impor.
“Kalau tidak ada perjanjian lebih awal maka nantinya ketika kita membutuhkan jadi sangat sulit mendapatkanya, Karena setiap negara mengalami pandemi Covid-19, dan masing-masing mengamankan ketahanan pangan nasional nya sendiri,” Ungkap Mindo.
Penulis: Hartono
Editor: Idul HM




























