Eks Wamen ESDM: Harga BBM Seharusnya Rp 5.000 per Liter

BBM Bersubsidi Premium, (Foto: Ist)

Jakarta, PONTAS.ID – Harga minyak mentah dunia menunjukkan penurunan yang tajam. Terkait hal itu, Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rudi Rubiandini, mengatakan, sudah seharusnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) turun sejak sebulan lalu, sehingga kewajiban menurunkannya sudah sangat mendesak.

Terlebih, bila melihat paramater pembentuk harga BBM yang sedang terjadi telah mengalami perubahan di tengah wabah virus Corona. Seperti nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada di level Rp16.000 dan harga minyak USD35 per barel.

“Maka harga minyak mentah setara Rp3.500, ditambah biaya pengolahan, transportasi, dan PPn maka bisa menjadi Rp4.500, bila ditambah keuntungan Pertamina 10% maka akan menjadi seharga Rp5.000,” papar Rudi, dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/4/2020).

Sebagai perbandingan, saat ini di negara tetangga Malaysia harga Ron 95 (Pertamax) adalah 1,25 Ringgit atau setara dengan Rp4.500 per liter. Jadi wajar kalau di Indonesia dijual dengan harga Rp5.500.

“Jangan sampai anugerah harga minyak dunia turun tidak dirasakan dan dinikmati masyarakat Indonesia, tetapi hanya dinikmati oleh pemerintah dan BUMN nya saja,” ujarnya.

Namun, bila untuk menjaga kelangsungan tugas Pertamina dalam menjalankan program BBM Satu Harga sampai ke pelosok ditambah menutupi penurunan pendapatan di sisi hulu. Maka masih pantas ditambah lagi dengan nilai Rp500 sampai 1.000 per liter BBM.

“Artinya, harga yang dijual ke masyarakat Rp5.500 sampai Rp6.000 adalah harga yang sudah memasukan segala mancam aspek sehingga Pertamina mendapat perlindungan dan masyarakat juga membeli dengan harga yang wajar dan masih terjangkau,” tukasnya.

Diketahui, pemerintah hingga saat ini belum mengambil keputusan untuk menurunkan harga BBM Premium ataupun harga BBM Solar yang disubsidi. Saat ini BBM Premium (Pertamax) masih dijual Rp 6.450 per liter.

Padahal, pada Rabu (18/3/2020) lalu, Presiden Jokowi meminta para menterinya mengkalkulasi rencana penurunan harga BBM subsidi maupun nonsubsidi.

Jokowi menekankan harga BBM bakal turun seiring dengan merosotnya harga minyak dunia ke level USD 30 per barel.

“Saya minta kalkulasi dihitung dampak dari penurunan ini pada perekonomian kita terutama BBM, baik BBM subsidi dan nonsubsidi,” kata Jokowi saat itu.

Penulis: Riana

Editor: Luki H

Previous articlePertamina Perluas Layanan Pesan Antar LPG, BBM, dan Pelumas
Next articleHeboh Video Ledakan Kabel Bikin Listrik Jakarta Padam, PLN Angkat Suara