Modal Asing Sesaki Unicorn RI, Asosiasi: Investor Lokal Tak Jeli

Unicorn RI

Jakarta, PONTAS.ID – Sebagian pihak mulai teriak tentang aliran modal asing yang deras mengalir ke unicorn asal Indonesia yakni Go-jek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak.

Menurut perwakilan Asosiasi Digital Enterpreneur Indonesia, Suherman Wijaya, dominasi modal asing di unicorn tidak lepas karena kejelian melihat celah bisnis.

“Positifnya kalau enggak dibuka untuk investor asing masuk ya unicorn enggak pernah ada di Indonesia, yang ada start up,” kata Suherman di Jakarta, Kamis (8/8/2019).

“Jadi masih belum jeli (investor lokal) melihat ide-ide startup ini. Nah asing yang melihat peluang bisnis tersebut,” sambung dia.

Suherman enggan menunjuk langsung siapa yang salah atas fakta bahwa modal asing cukup dominan di unicorn Indonesia saat ini. Sebenarnya kata dia, modal unicorn Indonesia bisa dimiliki oleh investor dalam negeri.

Namun hal itu tidak terjadi karena investor dalam negeri belum terbiasa melihat bisnis startup yang relatif baru dikenal. Kini dengan aliran modal asing yang besar itu, startup Indonesia berkembang jadi unicorn.

Bisnisnya pun berkembang, bahkan tak hanya merambah Indonesia namun juga di Asia Tenggara. Meski begitu, dominasi modal asing di unicorn RI juga potensi negatif.

Dividen perusahaan bisa mengalir ke luar negeri padahal keuntungan itu didapatkan dari pasar Indonesia.

“Ini peran pemerintah supaya hasil usaha enggak dibawa ke luar negeri karena itu potensi market di Indonesia,” kata dia.

Rupiah Dikuatkan

Sementara itu, Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Indonesia, Didik J Rachbini menganalogikan aliran modal asing ke unicorn seperti gorengan.

“Modal seperti ini perlu dicermati, ibarat kita makan gorengan, ada gizinya tetapi kolesterolnya perlu dicermati,” ujarnya

Didik yang juga seorang ekonom menegaskan tidak menolak investasi asing di unicorn Indonesia. Sebab, investasi asing juga punya aspek positif antara lain menguatkan nilai tukar rupiah.

Namun di sisi lain, bila modal asing itu sangat dominan dan tidak terkontrol, maka punya potensi sebaliknya.

Aliran dividen akan mengalir ke luar negeri sehingga turut membebani neraca pembayaran RI yang sudah defisit.

Selain itu, mengalirnya keuntungan ke luar negeri juga akan membuat permintaan dollar AS meningkat. Akibatnya nilai tukar rupiah bisa melemah.

“Ada risiko yang harus kita terima, dan harus dikompensasi dengan yang lain. Intinya investasi asing di unicorn itu tetap positif tetapi mengandung risiko,” kata dia.

Tak Dikendalikan Asing

Terpisah, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut investor asing enggan mengambil alih Unicorn Indonesia meski banyak menyuntik modal.

Menurut Plt Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM, Yuliot Tanjung, hal itu tidak akan terjadi karena para investor tidak mau mencampuri urusan menajemen.

“Kalau kita lihat itu pendirinya ya tentu inisiasi untuk kegiatan usahanya, Bukalapak, Go-Jek segala macam kan tetap kendalinya ada di pendirinya sendiri,” ujar Yuliot.

“Sementara pemodal ini tidak mau mengambil alih managemen kegiatan karena pada saat mereka ambil alih ide bisnis segala macam, itu jadi terputus,” sambungnya.

Saat ini sebgain Unicorn Indonesia memang didominasi oleh investor asing. Bahkan modal asing terus disuntikan untuk kian membesarkan unicorn Indonesia. Investor unicorn Indonesia pun beragam.

Yuliot mengatakan, suntikan modal dari para investor asing ke Unicorn Indonesia hanya sebagai penyertaan modal saja.

BKPM mencatat suntikan modal tersebut sebagai penanaman investasi asing di Indonesia.

Penulis: Luki Herdian

Editor: Hendrik JS

Previous articleKomunikasi Krisis PLN Harus Diperbaiki
Next articleIndef Nilai Pengaruh Investasi ke Sektor Riil Belum Nendang