Impor Bawang Putih Melonjak 57,5%, BPS: Semua dari China

Sebanyak 115 ribu ton bawang putih impor telah merapat ke Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak, (Rilis Kementan/(2/5).

Jakarta,PONTAS.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan kinerja perdagangan Mei 2019 surplus USD210 juta. Membaik dari kinerja bulan sebelumnya yang mengalami defisit sangat dalam sebesar USD2,4 miliar. Pada Mei impor barang konsumsi memang meningkat, komoditas utamanya adalah bawang putih.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan bawang putih menjadi komoditas yang mengalami peningkatan impor tertinggi pada Mei 2019. Tercatat selama bulan lalu impor bawang putih mencapai 69.507 ton atau senilai USD76,4 juta.

Nilai ini meningkat signifikan yakni 57,5% dibandingkan dengan Mei 2018 yang sebesar USD44,2 juta atau mencapai 51.367 ton. Impor ini seluruhnya berasal dari China.

” Peningkatan impor ini untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan itu berasal dari China,” jelas Kepala BPS Suhariyanto,dalam keterangan resmiya, senin (24/6/2019).

BPS mencatat Neraca perdagangan Mei 2019 surplus US$ 207,6 juta. Surplus tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan ekspor mencapai 12,42% dibanding bulan sebelumnya (mom). sementara itu impor turun 5,62% mom.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor pada bulan Mei 2019 sebesar US$ 14,53 miliar. Secara bulanan maupun tahunan, hampir semua jenis barang impor mengalami penurunan kecuali barang konsumsi yang justru naik 5,62% mom. Meski begitu, BPS menilai penurunan impor bukan indikasi pelemahan ekonomi.

Suhariyanto mengatakan, bahan baku/penolong mengalami penurunan 7,82% dibanding bulan sebelumnya. Penurunan impor bahan baku terjadi pada komoditas mobile phone tanpa baterai, emas batangan dan gula mentah dan kapas.

Barang modal juga mengalami penurunan 1,76% dibanding bulan sebelumnya. Nominal impor barang modal pada bulan Mei 2019 tercatat sebesar US$ 2,33 miliar. BPS melaporkan penurunan terjadi pada truk dan mesin berat.

Adapun penurunan mesin dan peralatan listrik mencapai US$ 158,5 juta dari bulan sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan penurunan paling besar secara bulanan. Selanjutnya diikuti oleh penurunan besi dan baja sebesar US$ 109,5 juta sera mesin/pesawat mekanik yang turun US$ 85,1 juta.

Penulis: Hartono

Editor: Idul HM

Previous articleHalal Bihalal Scooterist se Sumut, Begini Harapan Plt. Bupati Asahan
Next articleNikmati Kemeriahan HUT Kota Medan! Ini Jadwal dan Acaranya