Jakarta, PONTAS.ID – Iklim tropis yang dimiliki oleh Indonesia, sangat mendukung penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap, yang saat ini tengah digalakkan oleh Pemerintah RI pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi), dalam rangka pemanfaatan energi bersih.
Direktur Utama PT Sky Energy Indonesia Tbk (JSKY), Jackson Tandiono mengingatkan bahwa hal tersebut juga selaras dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap Oleh Konsumen PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).
“Sebagai negara tropis yang banyak mendapat sinar matahari, pemakaian panel surya dapat sangat membantu konsumen. Apalagi, kelebihan daya listrik yang dihasilkan dapat dijual ke PLN,” kata Jackson dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Selasa (5/2/2019).
Pemanfaatan sistem PLTS atap pun dinilai mampu mengurangi biaya tagihan listrik yang dibayar oleh konsumen kepada PLN. Adapun, di sisi lain sistem yang menggunakan panel surya (solar panel) tersebut menjadi sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan.
“Pembayaran tagihan listrik konsumen akan berkurang drastis ketika memakai panel surya. Ada persepsi alat tersebut harganya mahal, padahal faedahnya jauh lebih besar mengingat panel surya dapat bertahan 20 tahun,” ujar Jackson.
Dalam Permen ESDM Nomor 49 Tahun 2018 yang ditetapkan 15 November 2018 dan berlaku mulai 1 Januari 2019 itu, juga ditegaskan bahwa penggunaan sistem PLTS Atap bertujuan untuk menghemat tagihan listrik pelanggan PLTS Atap.
Karena itu, kelebihan tenaga listrik yang dihasilkan akan diekspor (dijual) ke PLN dengan faktor pengali 65 persen. Jackson mengatakan, kehadiran Permen ESDM Nomor 49 tahun 2018 dapat mendorong minat masyarakat untuk menggunakan panel surya. JSKY optimistis permintaan akan panel surya cukup tinggi di tanah air.
Sebelumnya, Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Rida Mulyana mengatakan PLTS atap tengah populer dan berkembang pesat, karena implementasinya mudah, sederhana, dan kapasitas yang mudah diatur sesuai ketersediaan luasan atap.
“Dengan memasang PLTS atap secara on grid, konsumen dapat menurunkan biaya tagihan listriknya secara signifikan, minimal 30 persen,” tutur Rida seperti dikutip dari laman resmi ebtke.esdm.go.id.
Bahkan Menteri ESDM, Ignatius Jonan juga pernah mengatakan, setelah memakai panel surya di rumahnya, tagihan listrik yang biasanya berkisar 4-5 juta rupiah per bulan, bisa berkurang menjadi sekitar 1 juta rupiah atau lebih sedikit.
Editor: Risman Septian























