Jakarta, PONTAS.ID – Direktur Eksekutif Syaiful Mujani Reaserch and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan membantah ada kesalahan yang dilakukan oleh lembaga survei sehingga memperlihatkan hasil perolehan suara yang berbeda antara hasil survei dengan hasil hitung cepat dalam Pemilihan Kepala Daerah.
“Survei dilakukan untuk memotret keadaan yang terjadi saat survei dibuat. Maka dari itu penting bagi masyarakat untuk mengetahui kapan survei itu dibuat,” kata Djayadi ditemui dalam diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (30/6).
Hal ini diungkapkannya saat menanggapi kritikan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono. Ia mempertanyakan kredibilitas lembaga survei karena dalam berbagai survei yang diadakan sebelum Pilkada, pasangan yang diusung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera di Jawa Barat Sudrajat-Ahmad Syaikhu paling tinggi hanya mendapat 10% elektabilitas.
Sementara pada Pilkada berdasarkan hitung cepat saat ini perolehan naik hingga 20% yang mana pasangan yang disebut Asyik itu memperoleh 30% suara.
Pada Pilkada Jawa Tengah hasil survei untuk pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah selalu berada di angka 15%. Namun, pada hasil hitung cepat pasangan usungan Gerindra dan PKS itu mampu menempel ketat saingannya Ganjar Pranowo dan meraup suara hingga 44%.
Menurut Djayadi, hasil survei kecil sekali berpengaruh pada minat pilihan masyarakat terhadap kandidat calon kepala daerah. Sehingga paparan hasil survei tidak bisa dijadikan patokan hasil Pilkada.
“Faktor yang menentukan itu bisa saja figur baik figurnya calon maupun figur yang menyertainya. Lalu ada faktor ikut ideologi partai, faktor mengikuti suara terbanyak dan terakhir faktor underdog atau rasa kasihan. Banyak sekali yang mempengaruhi,” ujarnya.
Berubahnya angka perolehan suara yang memperlihatkan kenaikan cukup jauh pada satu kandidat pun menurutnya tidak bisa diprediksikan karena cairnya pemilih.
“Sebanyak 50% pemilih di Indonesia itu baru menentukan pilihannya pada dua minggu jelang pemilihan. Bahkan ada 10% yang baru menentukan pilihan saat tiba di TPS. Ini penelitian berdasarkan exit poll. Jadi tidak bisa menyalahkan survei,” ungkapnya.
Djayadi pun mengakui bahwa berubahnya suara kandidat saat Pilkada bisa jadi kuat ditentukan oleh gerakan pendukung dan mesin parpol.
“Bisa dikatakan mungkin pasangan Asyik naik suaranya karena faktor Prabowo yang terjun langsung ikut kampanye. Kita sebetulnya tidak tahu kan? Lalu banyaknya pendukung Ridwan Kamil di Jabar kenapa tidak membuat elektabilitasnya setinggi di dalam survei. Karena sebetulnya pemilih RK sebelumnya adalah pendukung PKS dan Gerindra yang pada pilwali mengusung RK. Karena RK berubah haluan maka pendukung pun kembali ke partai asal. Itu dugaan saya,” terangnya
Editor: Idul HM




























