Polisi Gunakan Senpi untuk Melumpuhkan

Ilustarsi Senjata Api

Jakarta, PONTAS.ID – Anggota Komisi I DPR, Prananda Surya Paloh, menyatakan, ‎pada prinsipnya semua senjata api (senpi) mematikan. Di America Serikat Senapan Serbu Colt M4 berkaliber 5.56 mm (sama dengan SS1 G2 Polri atau SS2 TNI) dipakai baik oleh semua unit US Armed Forces maupun unit taktis Kepolisian (Special Weapon and Tactics Unit – SWAT unit). ‎

“Yang membedakan adalah protokol penggunaannya. Jika militer punya protokol ‘Shoot to Kill’, dengan target jantung maupun kepala. Sebaliknya kepolisian punya protokol ‘Shoot to Defend’ atau ‘Shoot to paralyze’, dengan target utama bahu atau kaki,” kata Prananda, di gedung DPR, Rabu (3/1/18).

“Karena pada prinsipnya penjahat yang beroperasi harus ditangkap dan diajukan ke pengadilan. Jadi sebisa mungkin dalam kontak senjata Polisi melumpuhkan penjahatnya,” lanjutnya.

Dalam konteks Polri, sebut Prananda, Senapan Serbu G2 versi Polisi dari Varian SS1 Pindad. Dengan mengandalkan tipe tembakan semi otomatis (tembakan satu satu). Seperti yang telah diketahui mutu dari buatan Pindad seringkali mengantar TNI menjadi juara, senjata para jago tembak kelas dunia.

“Sehingga sangat wajar jika POLRI membeli dan membagikan para unit unit taktisnya dalam mengantisipasi serta menangangi kejahatan kejahatan ekstrim di berbagai wilayah Indonesia,” ujarnya.

Menurut Politisi Partai Nasional Demokrat (NasDem) ini, Polri boleh saja dan bisa saja mengambil kebutuhan senjatanya dari luar negeri. Seperti contoh Senapan serbu jenis Styer AUG dari Austria atau Colt M4 yang jadi senjata unit taktis Kepolisian.

Untuk penambahan modal Pindad, kata Prananda, bisa melalui pinjaman perbankan seperti yang pernah dilakukan Pindad sebelumnya. Karena Pindad merupakan BUMN yang Bankable. “Sehingga dalam mengambil opportunity bisnis ini, Pindad harus bisa mengajukan pinjaman secara professional ke bank pemerintah atau Swasta,” pungkasnya.

Terpisah, Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto mengungkapkan, saat ini polisi hanya mengadakan senjata spesifikasinya hanya untuk melumpuhkan saja yaitu Low Enforocement Weapon (LEW).

“Jadi teman-teman tolong pahami yang dipakai polisi sekarang adalah pengadaan-pengadaan setelah polisi menjadi Polri yang Civil Police. Ini adalah pengadaan-pengadaan yang masuk Low Enforcement Weapons,” ungkap Setyo Wasisto.

Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri ini menegaskan, jika pihaknya tidak punya sama sekali senjata canggih yang setara dengan TNI, selain alat sisa seperti RPG. Apalagi sampai memiliki senjata untuk menembak helikopter.

“Endak lah. Kalau dikatakan untuk nembak helikopter endak ada. Itu hanya untuk Pusdik Brimob untuk pengenalan senjata. Kalau peluru RPG dan senjata lain udah habis ya selesai,” tegasnya.

Setyo pun menuturkan, pihaknya saat ini hanya mempunyai senjata paling besar hanya senjata berjenis AK berkaliber 7,62. Dan untuk senjata paling besar di atas AK sendiri, pihaknya tidak mempunyai.

“Tapi Polisi enggak menggunakan itu. Boleh dicek di pengadaan logistik sudah enggak ada itu. Kita paling besar pengadaan logistik itu kaliber 7,62 untuk AK,” katanya.

Juara Tembak

Sebelumnya, Kontingen TNI AD meraih prestasi terbaik dalam sejarah penyelenggaraan Lomba Tembak antar Angkatan Darat Negara-negara ASEAN atau The ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) 2017 di Singapura pada 14 November hingga 23 November 2017 lalu.

Mereka berhasil memecahkan rekor dengan perolehan 9 tropi, 31 emas, 10 perak dan 10 perunggu. Tak heran jika mereka unggul di antara 9 negara lainnya dan menjadi juara umum.

AARM 2017 diikuti oleh 10 negara ASEAN yaitu lndonesia, Thailand, Filipina, Singapura, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Laos, Brunei dan Timor Leste.

Kompetisi yang digelar tiap tahun sejak 1991 mempertandingkan 5 kategori yaitu Senapan, Karaben, Pistol Putra dan Putri serta Senapan otomatis (machine gun).

Tercatat hingga saat ini Indonesia menjadi negara yang paling banyak menjadi juara umum sebanyak 12 kali.‎

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here