Jakarta, PONTAS.ID – Upaya pemerintah dalam mengendalikan harga pangan selama Ramadan terbilang cukup berhasil. Pergerakan harga sejumlah bahan pokok sampai Lebaran terpantau tidak mengalami lonjakan signifikan. Hal ini diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di sela-sela open house, akhir pekan lalu.
“Lebaran tahun ini alhamdulillah suasananya baik. Harga cukup baik. Praktis tidak ada yang naik atau terjadi lonjakan,” ujar Darmin.
Kendati demikian, dia tidak menampik terdapat beberapa komoditas pangan yang mengalami kenaikan. Namun, besarannya tidak terlalu fantastis. Dia mencontohkan komoditas telur, cabai, dan bawang yang mengalami perubahan harga relatif tipis selama Ramadan. Begitu pula harga beras yang cukup terkendali seiring dengan menguatnya stok.
“Cabai, beras dan apalagi daging, tidak turun, tidak naik juga. Jadi, tahun ini masyarakat merayakan Lebaran dengan harga yang tidak mengganggu lagi,” tukas Darmin.
Lebih lanjut, dia menekankan pemerintah sudah fokus menjaga stabilitas harga komoditas pangan strategis sebelum memasuki periode Ramadan.
Dia menyatakan harga sejumlah bahan pokok bergerak turun. Dia lantas mencontohkan harga beras jenis medium yang kian mendekati harga eceran tertinggi (HET).
Pemerintah diketahui mematok HET untuk beras medium Rp9.450 per kilogram (kg). Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), rata-rata harga beras kualitas medium I per 14 Juni 2018 tercatat Rp 11.300 per kg, sedangkan harga beras kualitas medium II Rp9.850 per kg.
“Pemerintah cukup fokus menjaga harga selama puasa dan Lebaran. Sempat naik tapi kemudian bisa kita kendalikan, tapi sudah mengarah turun sehingga kita percaya masih bisa terus turun,” kata mantan Gubernur Bank Indonesia itu.
Kementerian Perdagangan yang merupakan kementerian teknis terkait sejak tahun lalu telah mengubah pola pengawasan. Pasokan dan harga dipantau secara berkelanjutan oleh seluruh pihak terkait dan juga yang tergabung dalam Satgas Pangan.
Pada tahun ini, Kemendag secara langsung menyebar hingga 205 staf, termasuk para eselon satu, untuk memantau langsung lokasi yang rentan mengalami lonjakan harga.
“Eselon satu bertanggung jawab atas beberapa daerah guna memudahkan komunikasi. Jika stok menipis, kami bisa langsung ambil keputusan untuk mengeluarkan pasokan,” ujar Mendag Enggartiasto Lukita.
Editor: Idul HM


























