Bulog 59 Tahun, Tetap Jadi Penjaga Ketahanan Pangan Nasional

Anggota Komisi IV DPR Melakukan Sidak Mengecek keadaan beras di Gudang Bulog di Pati
Anggota Komisi IV DPR Melakukan Sidak Mengecek keadaan beras di Gudang Bulog di Pati

JAKARTA, PONTAS.ID – Di tengah tekanan ekonomi global, perubahan iklim, hingga ketegangan geopolitik yang memengaruhi rantai pasok pangan dunia, ketahanan pangan nasional dinilai tetap menjadi fondasi penting bagi Indonesia.

Dalam konteks itu, Perum Bulog yang kini genap berusia 59 tahun disebut masih memegang peran strategis menjaga stabilitas pangan nasional.

Sejak berdiri pada 1967, Bulog mengemban tugas menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas harga pangan, khususnya beras sebagai komoditas utama masyarakat Indonesia.

Mengusung tema ulang tahun ke-59 “Mengawal Pangan, Menjaga Masa Depan”, Bulog dinilai tidak hanya berfungsi sebagai lembaga logistik, tetapi juga instrumen negara dalam menjaga kedaulatan pangan.

Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, menegaskan negara tidak bisa sepenuhnya menyerahkan urusan pangan kepada mekanisme pasar.

“Pangan adalah soal kedaulatan. Negara harus hadir. Bulog adalah instrumen penting negara dalam menjaga stabilitas itu,” ujar Firman, Sabtu (16/5/2026).

Menurutnya, Bulog memiliki fungsi strategis sebagai stabilisator harga. Saat harga beras melonjak, Bulog hadir melalui operasi pasar. Sebaliknya, ketika harga gabah jatuh saat panen raya, Bulog berperan menyerap hasil panen petani.

Anggota Komisi IV DPR Melakukan Sidak di Gudang Bulog di Pati (dok. @firmansoebagyofficial)
Anggota Komisi IV DPR Melakukan Sidak di Gudang Bulog di Pati (dok. @firmansoebagyofficial)

“Bulog menjadi jembatan antara kepentingan produsen dan konsumen. Tanpa intervensi yang tepat, petani bisa merugi, sementara masyarakat menghadapi lonjakan harga,” katanya.

Tantangan Semakin Kompleks

Di sisi lain, Bulog dinilai menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring perubahan global dan dinamika kebijakan pangan nasional.

Pengamat ekonomi Cellios, Bima Yudistira, menilai Bulog harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk menghadapi fluktuasi harga pangan dunia dan ancaman perubahan iklim.

“Bulog tidak bisa lagi bekerja dengan pola lama. Digitalisasi, efisiensi logistik, dan penguatan data menjadi kunci ke depan,” ujarnya.

Ia juga menilai peran Bulog perlu diperkuat tidak hanya pada komoditas beras, tetapi juga pangan strategis lain seperti jagung, gula, dan kedelai guna memperkuat ketahanan pangan nasional secara menyeluruh.

Fokus Transformasi dan Distribusi Pangan

Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan transformasi internal terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.

Menurutnya, modernisasi gudang, pemanfaatan teknologi informasi, hingga peningkatan sistem distribusi menjadi fokus utama perusahaan.

“Kami ingin memastikan bahwa pangan tidak hanya tersedia, tetapi juga sampai ke masyarakat dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau,” ujarnya.

Selain menjaga stok pangan, Bulog juga terus memperkuat program penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat, terutama saat terjadi gejolak harga maupun tekanan ekonomi.

Program tersebut dinilai tidak hanya menjadi jaring pengaman sosial, tetapi juga instrumen pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan di pasar. (***)

Previous articleBegini Tips dari PLN untuk Menghitung Komponen Pembayaran Listrik dan Mengatur Pola Pemakaian