Kementan Dorong Peternakan Lakukan Perbaikan Pemeliharaan

Peternakan, (Foto: Ist).

Jakarta, PONTAS.ID – Aspek status kesehatan hewan menjadi persyaratan utama untuk bersaing di perdagangan internasional. Untuk itu, Kementerian Pertanian telah mengambil sejumlah langkah strategis dalam upaya meningkatkan daya saing komoditas unggas lokal.

Diungkapkan oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita pihaknya meminta para pengusaha telur untuk memperbaiki pola pemeliharaan unggas agar bisa memenuhi syarat Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE).

“Kami mendorong para pelaku usaha perunggasan untuk memperbaiki pola pemeliharaan unggasnya agar sesuai dengan persyaratan OIE. Hal ini perlu dilakukan sehingga produk unggas kita dapat bersaing di perdagangan global,” ungkap Ketut dalam keterangan tertulis, Kamis (9/8/2018).Ketut mengaku, tantangan untuk menggenjot ekspor tak hanya dari pola budidaya unggas melainkan juga kasus flu burung yang sempat mewabah di Indonesia pada 2004.

“Akibat wabah flu burung, sejumlah negara menutup impor produk unggas dari Indonesia,” tuturnya.

Untuk itu, Ketut menjelaskan pihaknya telah mengambil langkah kebijakan dengan melakukan pembebasan melalui kompartemen, zona, pulau atau provinsi dengan mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian RI No. 28 Tahun 2008 tentang Penataan Kompartementalisasi dan Zonasi. Tahun ini, Kementan telah mengeluarkan sebanyak 77 kompartemen bebas flu burung untuk Breeding Farm aktif.

Ketut mengapresiasi para pelaku usaha unggas yang telah berkomitmen untuk memenuhi standar internasional sehingga produknya layak ekspor.

“Kami sangat menghargai kerja keras para pelaku unggas yang telah berhasil mengekspor produk unggasnya. Contohnya PT ULU (Unggas Lestari Unggul) yang telah berhasil mengekspor telur tetas Ke Myanmar pada April lalu. Mereka berhasil ekspor karena telah memiliki sertifikat kompartemen bebas penyakit AI dan sertifikat veteriner dari pemerintah,” ujar Ketut.

Untuk diketahui, pada awal April tahun ini, Kementerian Pertanian melepas sebanyak 25.920 butir telur tetas ULU 101 yang diterbangkan langsung ke Myanmar dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Berdasarkan data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, prognosa produksi telur ayam untuk tahun 2018 sebanyak 2.968.954 ton, sementara kebutuhan konsumsi 2.766.760 ton. Maka diprediksi ada kelebihan stok (surplus) nasional sebanyak 202.195 ton.Ketut menambahkan pihaknya saat ini terus berupaya untuk meningkatkan pendapatan negara melalui ekspor berbagai komoditas strategis pertanian, termasuk produk peternakan.

“Pak Menteri selalu mengingatkan kami bahwa ekspor pertanian harus terus ditingkatkan. Pak Presiden memberikan tugas kepada kami. Beliau tidak mau negara sebesar Indonesia ini kalah ekspornya dibanding negara tetangga,” pungkas Ketut.

Editor: Idul HM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here