Jakarta, PONTAS.ID – Anggota Komisi IV DPR RI Firman Subagyo mengatakan, ditengah-tengah keprihatinan masalah wabah virus Corona yang menjangkiti beberapa negara, termasuk Indonesia harus dijadikan momentum untuk kebangkitan petani.
“Agar ditengah-tengah keprihatinan bangsa kita menghadapi wabah virus corona yang menimpa di sejumlah negara, termasuk Indonesia dapat dijadikan momentum kebangkitan petani,” kata Firman dalam keterangannya, Kamis (5/3/2020).
Hal itu disampaikan Firman saat melakukan kunjungan kerja di masa reses diberbagai wilayah di Jawa Tengah dan merespon keresahan masyarakat akan kebutuhan pokok sehari-hari seperti bawang putih.
“Bawang putih yang harganya sudah melampaui batas kewajaran karena adanya kebijakan negara prodosen bawang putih China yang melakukan stop export,” katanya.
Namun, ia menilai ada wilayah tertentu di Jawa Tengah yang bisa ditanami bawang putih, seperti di Kabupaten Temanggung. Ternyata Temanggung mampu memproduksi dan mensuplai kebutuhan bawang putih secara nasional sebanyak 25 persen.
“Ternyata setelah melihat langsung ada wilayah tertentu yang bisa bisa ditanan dan menghasilkan bawang putih yang sangat mengejutkan dan menggenbirakan, yaitu salah satunya Kabupaten Temanggung, ternyata mampu memproduksi dan mensuplai kebutuhan nasional sampai 25% kebutuhan nasional,” katanya.
Artinya, menurut politisi senior Partai Golkar dan SOKSI ini, kementerian perdagangan dan pemerintah daerah Temanggung bisa bekerja sama dalam meningkatkan swasembada bawang putih.
“Kita semua serius terutama kementerian terkait dan pemerintah daerah bisa kerja sama yang baik secara serius pasti kita bisa swasembada,” kata Firman Subagyo, Anggota DPR RI dari Jawa Tengah III ini.
Argumentasi ini disampapaikan dengan sangat rasional karena baru di Kabupate Temanggung saja sudah mampu mensuplai 25% kebutuhan nasional. Apakah seluruh wilayan tanah air di Indonesia dari Sabang sampai Merauke tidak ada yang bisa ditanam bawang putih seperti Temanggung. Saya yakin ada dan bisa,” tandasnya.
Firman juga merespon positip dengan adanya musibah virus Corona ini, karena petani tembakau sekarang menikmati hasilnya dengan dibeli dengan harga yang baik, dibanding sebelumnya.
“Sehingga petani tembakau dapat menikmati keuntungan akibat pabrik rokok yang selama ini memilih tembakau import juga tidak melakukan import terutama dari china yang selama ini mendominasi suplai tembakau ke Indonesia,” katanya.
Firman meyakini bahwa gonjang ganjing bawang putih dan tembakau selama ini, karena ada mafia importir yang bermain bersama para oknum pejabat pembuat kebijakan untuk mencari keuntungan pribadi.
“Selama ini dan lagi-lagi ada oknum pejabat yang ikut andil mamaikan peran sebagai pejabat penbuat kebijakan utk mencari keuntungan pribadi, karena ini adalah bisnis dan uang besar,” ungkapnya.
Firman meminta agar Balitbang Kementerian Pertanian secara serius mendata wilayah-wilayah yang mempunyai ketinggian diatas 600 sd 800 permukaan laut di seluruh wilayah Indonesia dilakukan pendataaan dan penelitian agar bisa ditanami bawang putih.
“Sekarang saatnya perlu gerakan mananam bawang putih dan kementerian perdagangan mengatur mulai menyetop ijin importnya,” ujarnya.
Bahkan Firman juga berkomunikasi dengan pelaku pertanian di Dapil Jawa Tengah III, di Kabupaten Pati yang berada di lereng Gunung Muria agar menanam bawang putih.
“Kalau setiap kabupaten ada luasan-luasan tertentu yang bisa ditamam setidak-tidaknya bisa untuk mensuplai kebutuhan daerahnya masing-masing. Kita tdk perlu import dan bergantung lagi bawang utih import dan mungkin suatu sat malah bisa export ke negara lain,” katanya.
Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Partai Golkar ini menambahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) wi sdh sering mengkritik kebijakan para pembantunya yang sering melakukan import produk-produk pertanian termasuk tenbakau dan gula, garam hendaknya mulai sekarang dengan momentum virus Corona memberangus mafia pangan.
“Ini dijadikan momentum gerakan membangkitkan petani dari bebagai ancaman dan pemainan mafia pangan. Saya sebagai anak petani merasa prihatin menhadapi persoalan petani yag nyaris tidak pernah diseselasiakan dari rezim ke rezim. Kapan lagi dan siapa lagi yang membela petani kalau bukan kita,” pungkasnya.
Penulis: Luki Herdian
Editor: Riana



























