Komisi IX DPR Minta Kemenkes Jangan Jadikan Kasus DPD sebagai Penyakit Musiman

Nurhadi
Nurhadi

Jakarta, PONTAS.ID – Anggota Komisi IX DPR Nurhadi meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk memfokuskan agenda untuk penanganan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang saat ini trend di tahun 2024 sudah mencatatkan hingga puluhan ribu korban.

Politikus NasDem ini pun lantas meminta kasus DBD jangan hanya jadi kasus musiman semata.

“Tiap tahun kejadian luar biasa akibat kasus DBD terjadi di berbagai daerah, di mana ratusan ribu orang terjangkit setiap tahunnya. Jangan jadikan DBD sebagai penyakit musiman,” kata Nurhadi, Selasa (18/6/2024).

Lebih lanjut Nurhadi menilai, Pemerintah dalam hal ini Kemenkes harus memprioritaskan dan secara serius melakukan langkah strategis penanganan kasus DBD ini. Salah satunya, dengan mengintensifkan kerja sama seluruh pemangku kepentingan termasuk Pemerintah Daerah (Pemda) untuk keberhasilan program nasional gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Gerakan 3M Plus (Menguras, Mengubur dan Mendaur-ulang).

Ditambahkan Nurhadi, Kemenkes juga harus mengintensifkan program pencegahan dengue dengan metode nyamuk ber-Wolbachia. Disertai evaluasi yang menyeluruh guna menjadi landasan perluasan program di tahun 2025 dan menyusun rencana program vaksinasi nasional dengue dengan target kelompok umur sesuai hasil kajian dan setelah mendapatkan rekomendasi dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

Sebelumnya, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Imran Pambudi menyampaikan, kemarau diperkirakan akan meningkatkan frekuensi gigitan nyamuk. Sebab, nyamuk akan sering menggigit ketika suhu meningkat.

“Jadi, kita dapat penelitian, waktu suhunya 25 derajat celcius itu nyamuk menggigitnya 5 hari sekali. Tapi, kalau suhunya 20 derajat celcius, nyamuk akan menggigit 2 hari sekali. Ini dapat meningkatkan potensi kasus terjadi saat Juli dan Agustus saat suhu udara tinggi,” kata Direktur dr. Imran Pambudi.

dr. Imran melanjutkan, kasus DBD di Indonesia mengalami pemendekan siklus, yang mengakibatkan peningkatan Incidence Rate (IR) dan penurunan Case Facility Rate (CFR).

“Terjadi pemendekan siklus tahunan dari 10 tahun menjadi 3 tahun bahkan kurang, yang disebabkan oleh fenomena El Nino,” kata dr. Imran.

 

 

 

Previous articleDinilai Mampu Memantik Geliat Ekonomi, DPD Minta Kepala Daerah Adopsi Konsep Pameran Jakarta Fair
Next articleTerkait Pernyataan tentang Perlindungan Orang Tobelo Dalam, Direktur International Survival Asia Temui Ketua DPD 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here