Komisi IV DPR Bantah Kunjungan ke Swedia Tak Bahas soal Program Makan Siang Gratis

Jakarta, PONTAS.ID – Anggota Komisi IV DPR Firman Subgayo membantah Komisinya ke Swedia untuk belajar program makan siang gratis. Menurutnya, kunjungan itu murni mempelajari kemajuan Swedia di sektor pertanian.

Menurutnya, Duta Besar Indonesia untuk Swedia, Kamapradipta Isnomo telah meminta maaf terkait informasi yang tidak benar tersebut. “Kaitkan berita mengejutkan ditulis media atau situs KBRI dengan judul studi banding tentang makan siang, tidak ada hubungannya,” kata Firman, Sabtu (25/5/2024).

Menurutnya, informasi studi banding Komisi IV untuk belajar makan siang gratis, dihembuskan oleh keluarga salah satu staf KBRI di Stockholm. Pihak Duta besar telah menegur staf tersebut karena telah membuat kehebohan.

“Pak Dubes menegur yang bersangkutan ternyata ada istri dari salah satu staf di KBRI. Istri staf bekerja di stasiun TV berbahasa Inggris, dengan judul boombastis, isi berita tidak sesuai dan ini ada apa,” kata politisi senior Golkar tersebut.

Adapun kunjungan rombongan Komisi IV DPR mempelajari kemajuan sektor pertanian, peternakan, lingkungan, dan kehutanan secara integrasif. Swedia, kata Firman, adalah negara yang sukses memaksimalkan sumber daya alamnya menjadi nilai ekonomi.

“Kami dibawa ke lapangan untuk melihat integrasi sektor pertanian dengan tanaman bunga ekspor dan pertenakan. Mereka menggunakan mesin modern, untuk memerah sapi saja pakai mesin,” ujarnya.

“Empat orang pemilik lahan mengelola 800 hektare, semua memakai teknologi modern dan itu yang kita pelajari. Kita bisa mendapatkan perbandingan mengenai kemajuan teknologi yang luar biasa dan kesimpulannya efisiensi,” ucapnya.

Sebelumnya, Dubes RI untuk Swedia Kamapradipta Isnomo sudah mengkonfirmasi bahwa kehadiran Komisi IV DPR ke Swedia adalah untuk belajar mengenai masalah pertanian hingga peternakan dan bukan soal makan siang gratis.

“Kunjungan kerja ini membuka peluang besar bagi Indonesia dan Swedia untuk mempererat kerja sama di bidang pangan. Kami melihat potensi yang luar biasa dalam pertukaran pengetahuan dan teknologi antara kedua negara,” kata Kamapradipta.

 

Previous articleBonus Demografi Harus Didukung Peningkatan Kualitas Demi Wujudkan Indonesia Emas 2045
Next articleImbangi Pertumbuhan Teknologi dengan Penguatan Nilai-nilai Budaya dan Kebangsaan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here