Selisih BB Sabu 11 Kilogram, DPD GIAN Surabaya Surati Kapolri dan Desak Kapolda Jatim

Ketua GIAN Kota Surabaya, Isma Hakim Rahmat/Cak Isma (Insert)

Surabaya, PONTAS.ID – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Gerakan Indonesia Anti Narkotika (GIAN) melalui suratnya yang ditujukan ke Kapolri Nomor : 01.A/DPD-GIAN/SBY/IV/2021, mendesak agar Kapolri dan Kapolda Jatim melakukan supervisi terkait fakta persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Kota Surabaya, yang menyebut ada selisih barang bukti 11 kilogram, Senin (5/4/2021) lalu.

Ada lima point surat desakan yang dikirimkan ke Kapolri dengan tembusan Kapolda Jatim tersebut antara lain.

GIAN Kota Surabaya, pertama meminta Kapolri, untuk mengusut selisih Barang Bukti 11 Kilogram Sabu yang tidak bisa dihadirkan dalam sidang, perkara dengan terdakwa Agus Hariyanto, di PN Kota Surabaya.

“Kapolri dengan jargon Presisi harus diterjemahkan ke tingkat di bawah sehingga maruah Polri tetap terjaga dan terhormat,” ujar Ketua GIAN Kota Surabaya, Isma Hakim Rahmat kepada pontas.id di Surabaya, Selasa (6/4/2021).

Menurutnya, Presisi adalah Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan.

“Sesuai penyampaian Kapolri Jendral (Pol) Listyo Sigit Prabowo, kita ambil unsur responsilitasnya saja sudah ada kewajiban sebagai atasan Polri memeriksanya,” katanya.

Diungkapkan untuk point Kedua, ditujukan ke Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afinta, agar segera melakukan supervisi dan pemeriksaan terhadap perkara itu, dan menjelaskan ke publik secara transparan meski sidang perkara itu masih berlangsung.

“Selisih BB itu kan perkara berbeda. Dan terungkap di fakta persidangan sesuai penyanpaian jaksa,” ungkapnya.

Dijelaskan di point ketiga, GIAN Surabaya akan tetap meminta seluruh elemen masyarakat bekerja sama memantau jalannya persidangan kasus-kasus narkoba yang ada di wilayah hukum Kota Surabaya, keempat mendesak kepada seluruh instansi Pemerintah untuk terlibat dalam P4GN, yakni Program Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

“Mari kita bersikap lebih bijaksana dan serius dalam melaksanakan Inpres No 2 tahun 2020 dan melibatkan seluruh stakeholder dan tidak ego sektoral, bersama Badan Narkotika Nasional Provinsi, Badan Narkotika Nasional Kota Surabaya, sinergi massif melawan laten Narkotika di Jawa Timur khususnya dan Indonesia pada umumnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, GIAN Kota Surabaya tetap akan mendukung penegakan hukum atau represi soal narkotika di wilayah manapun. Namun, aparat juga harus tetap menjaga kredibilitas di mata publik.

“Jangan sampai masyarakat curiga ke mana barang bukti itu kok bisa selisih dari mana, ini kita butuh penjelasan,” pungkas pria yang akrab dipanggil Cak Isma ini.

Sekadar diketahui, dalam sidang perkara yang ditangani Pengadilan Negeri Kota Surabaya, Senin (5/4/2021), terungkap bahwa JPU Suprarlan, Kejari Surabaya, menyebut barang bukti yang dihadirkan dalam sidang sesuai dalam dakwaan, sebanyak 10 bungkus yang dimasukan dalam kemasan Teh China, atau sejumlah 10 kilogram barang bukti.

Padahal saat ditangkap di kawasan hotel Sukomnunggak, Surabaya, ada barang bukti 21 Kilogram.

Jadi ada selisih 11 kg Sabu barang bukti yang tidak bisa dihadirkan dalam sidang.

Dalam kasus ini, yang diseret jadi terdakwa adalah Agus Hariyanto, kurir narkoba yang lolos dari maut.

Dua rekannya Nur Cholis (44) dan Riki Rinnnaldo (22), karena berusaha melawan dengan menyerang menggunakan parang, Nur Cholis dan Riki Rinnaldo, ditembak.

Keduanya tewas dengan luka di dada mereka. Dari tangan ketiganya petugas menyita barang bukti sabu seberat 21 kg.

Penulis : Fauzi/Agus.
Editor    : Agus DC.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here