2 Bulan Pasca Penggabungan, BSI Bawa Harapan Bagi Keuangan Syariah Indonesia

Bank Syariah Indonesia
Bank Syariah Indonesia

Jakarta, PONTAS.ID – Sejumlah tantangan harus dihadapi PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) sejak efektif beroperasi pasca penggabungan tiga bank syariah milik Himbara pada 1 Februari 2021 lalu.

Akan tetapi, perlahan berbagai tantangan ini mampu diatasi dan mulai terlihat membawa dampak positif bagi bisnis Bank Syariah Indonesia maupun ekosistem keuangan syariah di Indonesia.

Wakil Direktur Utama II BSI, Abdullah Firman Wibowo mengatakan, ada setidaknya dua tantangan besar yang harus dihadapi perusahaan sejak resmi berdiri dua bulan lalu. Tantangan pertama ada pada aspek sumber daya manusia (SDM).

Menurut Firman, sejak merger efektif berjalan, jumlah karyawan BSI mencapai lebih dari 20 ribu orang. Jumlah ini berasal dari para pekerja bank pendahulu yakni Bank BRI Syariah, BNI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri.

“Kapasitas karyawan menjadi lebih besar, berikut jaringan outlet. Jadi pertama kami harus satukan dulu, sinergikan dulu secara operasional,” ujar Firman, Selasa (6/4/2021).

Tantangan kedua yang dihadapi BSI yakni pada aspek digitalisasi layanan. Firman menegaskan, sinergi sistem layanan digital bank-bank pendahulu harus dilakukan dalam tempo secepat mungkin. Padahal, awalnya sistem layanan digital BRI Syariah, BNI Syariah, dan BSM berbeda-beda.

Karena perbedaan tersebut, maka tak heran apabila sinergi dan proses konsolidasi sistem IT BSI harus dilakukan lebih lama dibanding proses integrasi lain. Akan tetapi, Firman menjamin layanan terhadap nasabah BSI akan tetap berjalan secara maksimal selama proses integrasi berjalan.

Menurutnya, secara umum kehadiran BSI di Indonesia banyak membawa dampak positif. Alasannya, pendirian BSI dianggap menjadi pemicu bagi bank-bank syariah lain agar berani mengembangkan usaha dan meningkatkan layanan terhadap masyarakat.

“Yang membedakan (BSI dengan bank syariah lain) adalah, BSI itu punya value lebih baik,” ujarnya.

“Saya optimis dari sisi produktivitas bagus dan dari sisi efisiensi operasional dibandingkan pendapatan terus mengalami perbaikan. Dengan adanya sinergi ini tentu harus dibuktikan bahwa kami memiliki skala ekonomi yang lebih besar dan efisien. Skala ekonomi itu harus semakin besar, jadi harus semakin efisien,”tutupnya.

Tentang PT Bank Syariah Indonesia Tbk
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (“Bank Syariah Indonesia”) adalah bank hasil penggabungan dari tiga bank Syariah milik BUMN yakni PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank BRIsyariah Tbk. yang mulai beroperasi pada 1 Februari 2021.

Penggabungan ini menyatukan kekuatan ketiga bank syariah tersebut dan bertujuan untuk mengoptimalkan potensi keuangan dan ekonomi syariah Indonesia yang besar.

Didukung sinergi dengan perusahaan induk (Mandiri, BNI, BRI) serta komitmen pemerintah melalui Kementerian BUMN, Bank Syariah Indonesia memiliki visi untuk menjadi salah satu dari 10 bank Syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar dalam 5 tahun ke depan.

Bank Syariah Indonesia berstatus sebagai perusahaan terbuka yang tercatat sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia (ticker code: BRIS). Pasca merger, Bank Syariah Indonesia adalah bank syariah terbesar di Indonesia. Per Desember 2020, Bank Syariah Indonesia memiliki total aset mencapai sekitar Rp240 triliun, modal inti lebih dari Rp22,60 triliun, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 210 triliun, serta total pembiayaan Rp157 triliun.

Selain itu laba terkonsolidasi Bank Syariah Indonesia per Desember 2020 mencapai Rp2,19 triliun.

Dengan kinerja finansial tersebut, Bank Syariah Indonesia masuk dalam daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset.

Dari sisi jaringan, Bank Syariah Indonesia didukung oleh lebih dari 1.300 kantor cabang, lebih dari 2.400 jaringan ATM, serta didukung lebih dari 20.000 karyawan yang tersebar di seluruh Nusantara.

Seluruh aset dan kekuatan ini akan dioptimalkan Bank Syariah Indonesia untuk memberikan layanan dan produk finansial syariah yang lengkap dalam satu atap untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan nasabah dari berbagai segmen, mulai dari UMKM, ritel, komersial, wholesale, dan korporasi baik dalam maupun luar negeri.

Penulis: Luki Herdian

Editor: Stevany

Previous articleBuka Rakernas, Ini Pesan Sofyan Djalil
Next articleBamsoet Dukung Pembangunan Sport Automotive Tourism Bandung Barat 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here