DPR: Holding Ultra Mikro akan Bawa Manfaat Besar

Jakarta, PONTAS.ID – Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Partai Golkar Nusron Wahid menyambut baik rencana penggabungan alias merger BUMN yang bergerak di bidang ultra mikro.

Adapun holding ultra mikro ini melibatkan 3 Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu PT Permodalan Nasional Madani (PNM), PT Pegadaian, dan PT Bank Rakyat Indonesia ( BRI). Nantinya PNM dan Pegadaian akan berada di bawah konsolidasi BRI.

“Merger akan membawa manfaat yang besar bagi ketiga BUMN tersebut,” kata Nusron Wahid dalam siaran pers, Senin (15/2/2021).

Nusron menyatakan, manfaat tersebut terdapat dalam berbagai bentuk. Bagi PNM misalnya, bisa memanfaatkan sumber dana dari BRI untuk mengakselerasi pembiayaan ultra mikro melalui paket program Mekaar dan Ulamm (Unit Layanan Modal Mikro).

PT PNM pun bisa segera memenuhi targetnya yaitu 40 juta nasabah. Sedangkan bagi BRI, bank spesialis UMKM ini bisa mendapat manfaat akan calon nasabah potensial dari Mekaar yang sudah naik kelas. Nasabah yang naik kelas ini akan menjadi nasabah mikro BRI, baik lewat KUR maupun non KUR. “Sehingga nasabah bisa cepat berkembang usahanya,” terangnya.

Manfaat serupa juga bisa didapat oleh PT Pegadaian. Menurut Nusron, usaha gadai mikro akan cepat tumbuh lantaran mendapat back up dari BRI berupa jaringan kantor, IT, dan marketing.

“Jadi ini mutual benefit. Yang diuntungkan BUMN yang bersangkutan dan nasabah. Ini membuat usaha mikro menjadi atraktif,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Menteri BUMN Erick Thohir berencana mensinergikan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Permodalan Nasional Madani (PMN) dan PT Pegadaian. Sinergi tersebut dilakukan demi mengembangkan pembiayaan bagi pelaku usaha ultra mikro.
Menurutnya, saat ini bisnis model PMN dan Pegadaian sangat bagus. Namun, pembiayaan yang diberikan berjangka panjang dan memiliki biaya tinggi.

“Kalau kita lihat sekarang PNM bisnis modelnya sangat bagus. Tapi pendanaannya sangat mahal. Jadi sangat tidak fair kalau kita membantu korporasi besar bunganya 9 persen, tapi PNM harus lebih mahal. Bukan salah PNM-nya, tapi akses dananya mahal,” ujar Erick.

Penulis: Luki Herdian

Editor: Hendrik JS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here