Polisi Telusuri Konsumen Tembakau Gorila di Medsos

Jakarta, PONTAS.ID –¬†Tembakau Sintetis yang dibuat di Apartemen Hight Point, Siwalankerto, Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur dijual lewat media sosial. Ada tiga media sosial, yakni Instagram (IG), Facebook (FB) dan Line.

“Kita akan melakukan kerja sama dengan pihak IG, FB dan Line. Kita juga berkoordinasi dengan Kemenkominfo. Semoga jaringan ini bisa kita ungkap,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Sabtu, (8/2/2020)

Yusri mengatakan, tersangka memasarkan tembakau gorila itu lewat media sosial sejak tahun lalu. Sudah ratusan kilogram tembakau sintesis dijual melalui media sosial.

“Untuk yang market dan user dari barang ini masih kita dalami. Karena ini makainya kayak rokok,” ujar Yusri.

Harga tembakau sintesis ini lebih mahal dari ganja biasanya. Mereka menjual dengan harga per paketnya sekitar Rp400 ribu, Rp600 ribu sampai Rp2 juta. Kemudian, kata Yusri, pengiriman tembakau itu menggunakan jasa ojek online. Taktiknya dinilai bisa mengelabui petugas.

“Mereka menyasar ke tempat umum dan enggak satu alamat biar menghilangkan jejak. Kadang juga dengan jasa pengiriman resmi,” tutur dia.

Polda Metro Jaya mengungkap home industri tembakau sintesis di Surabaya, Jawa Timur. Sebanyak 13 tersangka diamankan.

Sembilan orang ditangkap di Jakarta. Mereka yakni berinisial RS, FD, FH, MP, FW, PRY, MA, IL dan RD.

Kemudian, empat tersangka ditangkap saat penggerebekan di Apartemen High Poin, Siwalankerto, Wonocolo, Surabaya. Mereka yakni Aisul Riswad, Wahab, Noer dan Rico. Sebanyak 28 kilogram tembakau sintesis disita di lokasi. Ke 13 tersangka itu dibawa ke Polda Metro Jaya. Mereka langsung ditahan di Rumah Tahanan (rutan) Polda Metro Jaya.

Kini polisi masih melakukan pengembangan terkait pabrik pembuatan tembakau gorila tersebut. Polisi juga masih melakukan pengejaran terhadap satu tersangka yang masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) dengan inisial DBB.

Para tersangka dijerat Pasal 114 ayat (2) sub Pasal 112 ayat (2) juncto pasal 132 ayat 1. Dengan ancaman paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp1 miliar, paling banyak Rp10 miliar.

Penulis: Hartono

Editor: Idul HM

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here