Pengamat: 2020, Pertamina Harus Lebih Agresif Genjot Lifting Minyak

Pertamina EP Asset 1 Jambi Field berhasil melakukan pemboran sumur minyak SGC-27 di Desa Talang Belido, Kecamatan Sungai Gelam, Kota Jambi. 

Jakarta, PONTAS.ID – Direktur Eksekutif Center for Energy Policy, M. Kholid Syeirazi, mengapresiasi kinerja Pertamina. Di man,a melalui Pertamina EP pada 2019 lalu, berhasil melampaui target lifting minyak.

“Saya mengapresiasi hasil pencapaian Pertamina yang berhasil melampaui target (lifting) tahun lalu. Untuk itu, 2020 ini saya harap Pertamina bisa lebih agresif dan berani mengambil resiko (taking risk) untuk melakukan eksplorasi di wilayah-wilayah lapangan baru,” kata Kholid, Senin (13/1/2020).

Menurut Kholid, ada dua indikator yang merujuk pada keberhasilan capaian Pertamina, yakni indikator realistis dan idealis. Jika didasarkan pada indikator realistis, apa yang sudah diperoleh Pertamina sudah sesuai target sesuai rencana kerja (RKAP).

“Kalau dari sisi idealis, mestinya porsi penguasaan produksi Pertamina bisa lebih dari separuh dari produksi dan cadangan minyak nasional. Selama ini Pertamina baru mencapai 26 persen,” tukasnya.

Diketahui, menjelang akhir 2019, lifting minyak Pertamina melalui Pertamina EP memang sangat menggembirakan, yaitu mencapai 29.939.653 BBL dan Gas 272.954 MMSCF. Khusus untuk Pertamina EP Asset 3, berhasil memproduksi 13,092 BOPD atau setara dengan 100,6% target WP&B. Adapun produksi gas mencapai 262 MMSCFD.

Terkait hal itu, Kholid meyakini, di tahun ini Pertamina bisa lebih meningkatkan lifting-nya. Namun kata dia, untuk mencapai target Pertamina memang harus lebih agresif untuk melakukan eksplorasi di wilayah-wilayah lapangan baru.

“Selain itu, dari aspek pemerintah sebagai pemegang saham terbesar, jangan ambivalen dalam memperkakukan Pertamina. Di satu sisi disuruh bersaing, disisi lain Pertamina dipaksa mencari laba,” jelas Kholid.

Tak hanya itu, Kholid juga menyoroti pembayaran PSO yang sering terlambat, jadi penyebab piutang Pertamina ke pemerintah cukup tinggi sekitar Rp 80 triliun.

“Padahal uang itu bisa dipakai untuk ekspansi bisnis,” tuntas Kholid.

Penulis: Ririe

Editor: Riana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here