Pohon Sengon Jadi ‘Terduga’ Blackout, Dahlan Iskan: Apakah Tidak Ada Lagi Anggaran untuk Patroli Pohon?

Mantan Menteri BUMN sekaligus Dirut PLN, Dahlan Iskan. (foto: ist)

Jakarta, PONTAS.ID – Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, angka suara ihwal pohon sengon yang jadi ‘terduga’ listrik mati di sebagian wilayah Pulau Jawa pada Minggu (4/8/2019) dan Senin (5/8/2019) lalu.

Dahlan mengatakan bahwa pohon tersebut tumbuh di lingkungan penduduk dan menjulang tinggi hingga mencapai medan magnet tiang sutet.

“Pohon sengon itu tidak salah. Tumbuhnya di dalam pagar penduduk. Tapi menjulang sangat tinggi. Tinggi tiang SUTET itu 40 meter. Tapi bentangannya menggelayut. Tinggi 18 meter. Tinggi sengon itu sekitar 15 meter. Sudah mencapai medan magnet SUTET,” tutur Dahlan, seperti dilansir dari laman pribadinya disway.id, Rabu (7/8/2019).

Lebih lanjut, pria yang pernah jadi Bos PLN ini juga mempertanyakan mengenai keberadaan pohon sengon yang dibiarkan tumbuh dan tidak ada patroli pohon. Ia heran, mengapa tiang sutet tersebut mudah rusak terkena pohon sengon.

“Mengapa dibiarkan tumbuh tinggi di situ? Mengapa tidak ada yang tahu? Apakah tidak ada lagi anggaran untuk patroli pohon? Mengapa ada kebijakan anggaran ini –bahwa biaya operasi dan pemeliharaan harus di bawah anggaran SDM? Mengapa SUTET itu begitu rapuh? Hanya kesenggol satu pohon sudah pingsan?” ujar Dahan.

Menurutnya, tidak boleh ada pohon yang tumbuh dekat sutet, karena bisa mengganggu dan terjadi korsleting.

“Itulah. Mengapa tidak boleh ada pohon dekat SUTET (Saluran Utama Tegangan Ekstra Tinggi). Jangankan sampai nyenggol. Memasuki medan magnetnya pun sudah mengganggu. Bisa korsleting. Yang mengakibatkan arus listrik terhenti,” jelasnya.

Selanjutnya, Dahlan menjelaskan soal korsleting terjadi di Semarang namun listrik yang pada di Jakarta dan Jabar.

“Orang Jakarta itu makan listriknya paling besar. Apalagi ditambah daerah industri sekitarnya: Tangerang, Bogor, Bekasi, Karawang. Padahal pembangkit listrik terbesarnya ada di Jatim. Di Paiton,” bebernya.

“Maka harus ada pengiriman listrik dalam jumlah besar. Dari Jatim ke Jakarta. Sekitar 3000 MW. Tepatnya saya sudah lupa. Listrik sebesar itu hanya bisa dikirim lewat SUTET yang tegangannya 500 kVA. Ibarat kirim air, selangnya harus sangat besar,” sambungnya.

Dahlan mengatakan bahwa dulu ada patroli yang mengawasi jalur sutet dan melihat ada tidaknya gangguan di sekitar tiang, apalagi pohon tumbuh.

“Kian tinggi tegangannya kian luas medan magnetnya. Karena itu harus ada sempadan yang lebar. Di sepanjang jalur SUTET tidak boleh ada tanaman tinggi. Dalam istilah listrik sempadan itu disebut ROW –Right of Way,” ujarnya.

“Dulu selalu ada patroli yang mengawasi ROW itu –apakah mulai ada gejala pohon yang mengganggu. Tidak harus tiap hari. Pohon tidak bisa mendadak tinggi,” kata Dahlan.

Lantas, Dahlan pun mempertanyakan mengenai anggaran patroli apakah saat ini masih ada atau tidak.

“Atau sebaliknya, patroli masih dilakukan, hanya tidak ada anggaran penebangan pohon,” tuntasnya.

Penulis: Riana
Editor: Hendrik JS

Previous articleSinkronisasi Program, Plt. Bupati Asahan Gelar Rakorpem
Next articleDahlan Iskan: Pohon Sengon Bukan Satu-satunya Tersangka,Plt Dirut PLN Lagi Apes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here