Dukungan Teknologi Kebencanaan Perkuat Daya Saing Destinasi Pariwisata

Jakarta, PONTAS.ID – Dukungan teknologi kebencanaan yang dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), hingga ke destinasi pariwisata yang rawan terkena dampak bencana, dinilai akan memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global.

Penilaian tersebut disampaikan oleh Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya ketika menjadi keynote speech dalam acara Kongres Teknologi Nasional (KTN) yang dibuka Kepala BPPT Hammam Riza di Auditorium Gedung 2 BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

“Dukungan teknologi kebencanaan akan membuat wisatawan merasa nyaman karena mendapatkan informasi yang cepat dan akurat tentang bencana,” kata Arief dalam siaran pers Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang diterima wartawan di Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Dia pun menjelaskan, pariwisata Indonesia terus berusaha meningkatkan daya saing di tingkat global, yang pada tahun 2019 ini menargetkan berada di ranking ke-30 dunia, dari posisinya pada 2017 berada di ranking 42 dunia berdasarkan Travel and Tourism Competitiveness Index – World Economic Forum (TTCI-WEF).

“Sebagai pemain global, pariwisata Indonesia menggunakan standar global termasuk dalam mitigation plan menggunakan standar dunia UNWTO (United Nations World Tourism Organization),” ujar Arief.

Pada kesempatan itu, dia juga menjelaskan program Go Digital menjadi salah satu program strategis Kemenpar dalam upaya menenangkan pasar di era industri 4.0. Saat ini terjadi perubahan perilaku pasar yang bergeser ke arah digital atau industri digital era 4.0.

Perubahaan perilaku pasar, lanjut Arief, lebih lanjut diikuti pula dengan berubahnya perilaku konsumen (customer behavior) yang semakin mobile, personal, dan interatif dan ini menjadi sifat dari digital yakni ‘semakin digital, semakin personal’ (the more digital, the more personal).

Perubahaan perilaku konsumen yang mempengaruhi pasar tersebut, digerakan oleh kaum milenial.

“Milenial itu selalu digital, mobile, interaktif jumlahnya mencapai 50% dari jumlah wisman yang inbound ke Indonesia. Siapa yang menguasai komunitas anak muda, dialah yang berpotensi ‘winning the future market’,” tutur Arief.

Pada kesempatan itu, Arief bersama Kepala BPPT, Hammam Riza menyaksikan pameran (displai) teknologi Flood Early Warning Sytem (FEWS) dan Landside Early Warning Sytem (LEWS) yang telah di pasang di sejumlah daerah rawan bencana.

Menurut Arief, bencana kapan saja bisa terjadi, tidak bisa diprediksi dan relatif tidak bisa dihindari. Tetapi hal yang terpenting kalau sudah terjadi adalah bagaimana mengatasinya dan bagaimana meminimalisir risiko yang diimbulkan.

“Untuk ini Kemenpar sudah membuat tim Mitigation Plan dengan menggunakan standar dunia dari UNWTO,” ujar Arief.

Dia menegaskan, bahwa bencana dampaknya sangat besar bagi dunia pariwisata. Bencana alam erupsi, gempa bumi, dan tsunami yang terjadi dalam dua tahun berturut-turut belakangan ini telah mengganggu target pariwisata nasional.

Sementara itu, Hamam mengatakan bahwa BPPT terus mendorong percepatan teknologi, untuk peringatan dini bencana termasuk untuk destinasi pariwisata yang kerap terdampak oleh bencana geologi maupun hidrometeorologi.

“BPPT telah mengembangkan teknologi kebencanaan sebagai sistem peringatan dan pencegahan dini, baik bencana hidrometeorologi termasuk banjir dan tanah longsor maupun geologi mencakup gempa dan tsunami, untuk mendukung akselerasi program prioritas pembangunan pemerintah di antaranya pariwisata sebagai leading sector,” ucap Hammam.

Dia pun menjelaskan, BPPT telah mengembangkan teknologi kebencanaan, antara lain FEWS sebagai teknologi peringatan dini untuk bencana banjir, dan LEWS untuk gerakan tanah (longsor), serta buoy Merah Putih teknologi mitigasi bencana gempa dan tsunami yang telah dipasang di wilayah rawan bencana.

“Teknologi terpadu deteksi dan peringatan seperti teknologi buoy, kabel, maupun radar yang diintegrasikan dengan sistem peringatan dini yang telah tersedia, dengan didukung oleh sistem komunikasi yang berbasis generasi 4.0, teknologi struktur bangunan yang tahan gempa, teknologi penyediaan kebutuhan pokok seperti air bersih dan pangan darurat bencana, untuk menangani pascakejadian bencana,” tutur Hammam.

Untuk diketahui, Kongres Teknologi Nasional (KTN) 2019 membahas teknologi kebencanaan sebagai salah satu tema bahasan, selain teknologi transportasi perkeretaapian, teknologi informasi, dan technopreneur.

Keempat tema besar tersebut ditujukan agar sesuai dengan isu aktual sekaligus mendukung akselerasi program prioritas pembangunan pemerintah di antaranya pariwisata sebagai sektor unggulan.

Penulis: Risman Septian
Editor: Luki Herdian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here