Khawatir EL Nino 1997 Terjadi Lagi, Pemerintah Upayakan Stok Beras Terjaga

Ilustrasi bongkar muatan beras impor dari kapal.

Jakarta, PONTAS.ID – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan stok beras nasional aman untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Upaya menjaga pasokan beras juga demi menjaga laju inflasi tahun ini agar sesuai dengan target yang ditetapkan.

“Pada setiap penilaian inflasi yang dilakukan BPS (Badan Pusat Statistik), beras pasti memiliki andil besar. Dalam tingkat kemiskinan, beras juga diperhitungkan. Beras itu makanan utama, makanya jadi perhatian khusus,” ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Jakarta, kemarin.

Dalam pertemuan tersebut, kata dia, seperti rapat yang terdahulu, seluruh pihak diembani tugas untuk mengawasi persediaan dan harga komoditas utama tersebut.

Perusahaan Umum Bulog memiliki peran krusial, yakni menjadi pihak yang akan menggelontorkan beras ke konsumen melalui mekanisme operasi pasar.

“Ini bukan berarti Bulog jualan di pasar, tetapi pedagang pasar jual beras dari Bulog, tentunya dengan margin keuntungan yang cukup,” tutur Mendag.

Ia mengatakan, saat ini stok beras yang tersedia di gudang-gudang Bulog sebesar 2,2 juta ton. Walaupun angkanya cukup besar, serapan dari petani lokal masih terbilang kecil. Sejak awal tahun, ucap Enggar, perseroan hanya sanggup menye-rap sekitar 820 ribu ton beras dari dalam negeri. “Sisanya impor,” lanjutnya.

Alasan impor
Sebelumnya, dalam rapat dengan anggota Badan Anggaran DPR di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (5/9), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution membeberkan alasan utama mengapa pemerintah harus mengimpor beras pada tahun ini.
Semua, ucap Darmin, berawal dari kesalahan prediksi dari kementerian yang bertanggung jawab terkait dengan persoalan pertanian dan pangan.

“Saya coba kembali dulu ke 1997. Saat itu, fenomena El Nino yang parah terjadi, tetapi pemerintah yakin betul bahwa stok beras cukup, tidak akan terganggu. Tetapi, apa yang terjadi? Tidak cukup itu beras. Situasi agak kacau waktu itu. Akhirnya kita impor untuk 1998. Hampir 7 juta ton waktu itu,” tutur Darmin.

Setelah hampir 20 tahun, fenomena El Nino yang mengkhawa-tirkan kembali terulang. Tidak mau kecolongan lagi seperti periode terdahulu, pemerintah memutuskan untuk membuka impor beras sebesar 1,5 juta ton. Sebanyak 900 ribu ton masuk di 2015 dan sisanya datang setahun setelahnya.

Berlanjut ke 2017, El Nino pun ­berakhir. Akan tetapi, di situlah, menurut Darmin, kesalahan prediksi terjadi.

“Pada 2017 kami tadinya memang yakin, karena kementerian terkait mengatakan siap, panen akan banyak. Ternyata, pada Oktober 2017, tahu-tahu meledak itu harga beras. Itu sebabnya kita siapkan impor supaya jangan sampai ada masalah dengan pangan. Karena kalau panen Maret 2018 jelek dan tidak ada impor, bisa chaos,” jelas Menko Perekonomian.

Editor: Idul HM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here