Pemkot Pontianak Terbitkan Peraturan Larangan Bakar Hutan

Kebakaran Hutan, (Ist).

Jakarta, PONTAS.ID – Kondisi udara yang kian memburuk akibat asap yang timbul dari terbakarnya lahan membuat Pemerintah Kota Pontianak segera menerbitkan Peraturan Wali Kota Nomor 55 Tahun 2018 tentang Larangan Pembakaran Lahan. Peraturan tersebut guna menindak tegas pembakar lahan dan membiarkan lahannya terbakar di daerah setempat.

“Dalam peraturan itu, tindakan tegas tidak hanya diberlakukan bagi lahan yang sengaja dibakar, lahan yang terbakar tanpa sengaja pun dikenai sanksi,” kata Wali Kota Pontianak Sutarmidji di Pontianak, Rabu (22/8).

Pada Pasal 9 ayat (1) disebutkan lahan yang terbakar dalam arti tidak sengaja, tidak boleh ada aktivitas pemanfaatan tersebut selama tiga tahun sejak awal terjadi kebakaran. Masih di pasal yang sama, ayat (2), disebutkan seluruh kegiatan di lahan yang dengan sengaja dibakar tidak diberikan izin untuk semua bentuk perizinan selama lima tahun sejak awal terjadi kebakaran. Untuk penetapan lahan terbakar atau dibakar berdasarkan berita acara yang ditetapkan oleh camat setempat.

Tidak hanya sanksi pembekuan pemanfaatan lahan, pihaknya juga menjatuhkan sanksi dengan membebankan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memadamkan api kepada pemilik lahan. Hal itu dituangkan dalam Pasal 11 ayat (1), pemilik lahan yang lahannya sengaja dibakar, wajib mengganti seluruh biaya pemadaman yang besarnya ditetapkan oleh instansi teknis terkait.

“Biar saja dia kapok. Kalau tidak begitu, tidak ada efek jera,” imbuh Wali Kota dua periode itu.

Sanksi tegas lain juga dijelaskan dalam Pasal 11 ayat (2), setiap orang dan/atau badan hukum yang melakukan pembakaran lahan dapat diberikan hukuman pidana sesuai dengan peraturan perundangan.

Pemilik lahan yang telah atau tidak sengaja membakar lahan akan diberikan sanksi berupa pencabutan izin terhadap izin yang telah terbit di atas lahan yang terbakar. Hal ini, kata dia, diatur dalam Pasal 11 ayat (3) dalam peraturan tersebut.

Menurut dia, dikenakannya sanksi bagi lahan yang terbakar meskipun bukan sengaja dibakar lantaran pemilik dinilai lalai, tidak bisa menjaga lahan miliknya.

“Bayangkan, hampir setiap hari harus memadamkan api di lahan itu-itu terus,” kesalnya.

Sebagaimana diketahui, kondisi udara yang memburuk akibat asap dari terbakarnya lahan merugikan masyarakat. Bahkan, siswa-siswa mulai tingkat PAUD hingga SMA di Kota Pontianak terpaksa diliburkan melihat kondisi udara yang dapat mengganggu kesehatan tersebut.

Editor: Idul HM

Previous articleMUI Minta Umat Hargai Perbedaan Idul Adha
Next articleSengketa Konstruksi Kerap Hambat Proyek, Ini Langkah Kementerian PUPR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here