Startup Lokal Bidik Peternakan Selandia Baru

CEO Angon Agif Arianto

Jakarta, PONTAS.ID – Startup lokal bernama Angon berencana mengembangkan sayap ke Selandia Baru untuk membidik peternakan di negara tersebut. Penjajakan aplikasi Angon bertepatan dengan digelarnya CEO Forum di The Majestic Centre, Selandia Baru, belum lama ini.

Melalui pertemuan itu, Angon berencana bekerja sama dengan warga negara Indonesia (WNI) yang berprofesi peternak di negara tersebut. CEO Angon Agif Arianto mengatakan, peternak WNI yang ada di Selandia Baru, khususnya di Kota Auckland dan Wellington, rata-rata mengurus ternak 10.000 hingga 50.000 ekor. Ternak itu rata-rata diurus pada lahan seluas 350 hektare.

“Melalui aplikasi Angon, peternak akan lebih fokus untuk pengelolaan lahan, memastikan persediaan pakan bagi ternak. Sehingga hewan ternaknya bisa berkembang lebih baik. Di Selandia Baru, ternak tidak dikandangi, beda dengan Indonesia yang hewan ternaknya lebih banyak disuapi,” kata Agif Arianto selaku CEO Angon dalam rilis yang diterima PONTAS.ID, Jakarta, Minggu, (22/4/18).

Member Angon atau mereka yang investasi ternak melalui startup tersebut, tak perlu repot mengurus ijin investasi, membeli tanah serta membangun infrastruktur peternakan dari nol. Mitra peternak Angon di Selandia Baru jelas dapat menekan biaya operasional peternakan. Karena semua biaya jadi dibayar member Angon saat mereka berbelanja hewan ternak melalui aplikasi tersebut.

Menurut Agif, pihaknya bersama Kadin Bilateral akan kembali ke Selandia Baru untuk menyusun kerja sama bilateral secara lebih spesifik. Ditargetkan, bulan November nanti, hewan ternak milik peternak Indonesia di New Zealand sudah bisa di-online-kan melalui aplikasi Angon.

Saat ini, Angon sudah memiliki 11.100 hewan yang diternakkan dari 10.000 lebih member aktif dengan 800 transaksi di setiap bulannya. Sentra peternakan rakyat (SPR) merupakan mitra yang tersebar di desa beternak online di Wawar Lor Kabupaten Semarang, Jogjakarta, dan Bogor.

Sebenarnya, sudah ada permintaan kemitraan dari peternak di Batam, Palembang, Kalimantan, dan Makasar. Namun karena terkendala infrastruktur dan standardisasi, sehingga baru bisa dilakukan di sekitar Jawa.

Selandia Baru, sambung Agif, menjadi pilihan karena standar animal welfare dan pengolahan lahannya memakan waktu hingga 30 tahun. Maka itu, kualitas ternak di Selandia Baru berkualitas tinggi sekaligus banyak diterima secara global.

“Dengan aplikasi investasi kami, diharapkan bisa meningkatkan neraca perdangan Indonesia. Masyarakat Indonesia dapat memperluas peternakannya hingga ke Selandia Baru dengan mitra peternak juga WNI. Dengan kata lain, kata binaan Telkom Indigo ini, ketika hasil ternak dibeli, sebenarnya tidak perlu mengimpor, melainkan menggunakan produksi sendiri, hanya lokasinya di Selandia Baru,” jelas dia.

Angon juga dalam rencana bekerja sama dengan pemerintah terkait rencana menjadikan Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai tempat pelatihan calon mitra peternak yang ingin mendapatkan sertifikasi peternak. Jadi, setelah praktik di balai tersebut, calon mitra peternak mendapat sertifikat sebelum kandangnya dapat di-daringkan dalam aplikasi Angon.

“Apabila ternyata terjadi kelalaian dari mitra peternak, maka member tidak perlu khawatir karena Angon memberikan dua garansi service. Yakni refund 100% atau ganti hewan ternak dengan bobot ditambahkan 3,5 kg dari bobot timbangan yang diterima oleh member,” katanya.

Sementara peternak yang terbukti lalai dari tanggung jawab dalam merawat ternak, maka akan disuspend atau sanksi tertentu hingga penutupan SPR. Angon akan melengkapi fitur rating performa untuk para mitra peternak, sehingga member bisa membandingkan kualitas mitra peternak satu dengan lainnya.

Previous articleTeknologi Diharapkan Lahirkan Wirausaha Industri Digital
Next articlePemerintah India Pemerkosa Anak Pantas Dihukum Mati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here