Dorong IKM Produk Logam, Kemenperin Aktif Lakukan Pendampingan

Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mewakili Menteri Perindustrian melakukan diskusi dengan para pelaku IKM Bugangan didampingi Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut Endang Suwartini (kanan), Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu (kedua kiri), serta Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah Arif Sambodo (kiri) di Semarang, (6/4/2018)/ Foto: Humas Kemenperin.

Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian Perindustrian tengah berupaya membangkitkan kembali kejayaan sentra industri kecil dan menengah (IKM) penghasil produk logam di Semarang, Jawa Tengah khususnya yang berlokasi di Kelurahan Bugangan. Hal ini disampaikan Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih ketika melakukan kunjungan kerja di Sentra IKM logam Bugangan, Semarang, Jawa tengah, Jumat (6/4).

Sejak tahun 1970-an, pusat pengrajin logam di kota Semarang itu memberikan kontribusi signfikan pada kemajuan IKM logam dalam negeri dan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

“Di sentra logam Bugangan ini terdapat 56 IKM yang memproduksi mesin pengolahan pangan dan peralatan rumah tangga, bahkan sudah ada yang mampu membuat mesin cuci dan ekskavator mini,” kata Gati melalui keterangan tertulis Humas Kemenperin kepada PONTAS.id, Sabtu (7/4/2018).

Pada kesempatan yang sama, Dirjen IKM juga menyempatkan berdialog dengan 120 pengrajin logam yang berasal dari Bugangan serta wilayah lainnya di Jawa Tengah. “Sentra IKM logam di seluruh Indonesia, sebanyak 390-an, dengan total penyerapan tenaga kerja lebih dari 13.000 pengrajin,” ungkap Gati.

menurut kemenperin , saat ini di Jawa Tengah terdapat sekitar 20 sentra IKM logam yang tersebar di beberapa wilayah seperti Klaten, Ceper, Boyolali, Purbalingga, Pati, Tegal dan Kudus. Produk-produk unggulan dari mereka sudah ada yang dipasok untuk memenuhi kebutuhan komponen bagi perusahaan manufaktur besar di Indonesia, seperti sektor industri otomotif.

“Dahulu, Bugangan terkenalnya disebut sebagai daerah industri kalengan,” ucap Gati. Pasalnya di sentra tersebut, menghasikan produk ember seng, kompor minyak, panci, dandang, oven, bahkan gerobak sampah. Seiring perkembangan zaman, ada pengrajin yang berinovasi membuat mesin cuci berukuran besar. “Harga mesin cucinya lebih murah dari produksi industri besar, juga hemat listrik,” imbuhnya.

Industri logam yang berhasil saat ini menurut catatan kemenperin antara lain, CV. Mutiara Cemerlang  milik Muchamad Nashirin yang menghasilkan mesin cuci mampu meraih omzet penjualan sampai Rp200 juta per bulan. Dengan jumlah tenaga kerja sembilan orang. Mereka memenuhi pesanan sebanyak 817 pelanggannya yang berasal dari seluruh Indonesia.

Selain itu, Alberindo atau Alat Berat Indonesia, IKM logam milik Kasmin Riyadi yang telah berdiri sejak  tahun 2016 ini berhasil menciptakan ekskavator mini. Dengan mempekerjakan lima orang karyawan, Kasmin membuat alat berat yang memiliki bobot sebesar 500 kilogram itu bisa diselesaikannya dalam waktu satu sampai dua bulan.

Dalam memenuhi komponen bahan baku utama seperti motor hidrolik dan perangkat kabel, Kasmin mendapatkannya dari Polandia dan Italia, sedangkan besi kerangkanya asli Indonesia. Satu unit ekskavator mini atau bertipe PC 70 ini dibanderol dengan harga Rp250 juta. Jika dibandingkan dengan produk impor sejenis, ekskavator yang dinamai Kasmino ini harganya lebih murah lima puluh persen.

Editor: Idul HM

Previous articleSengketa Pulau Pari, Ini Tuntutan Warga pada Ombudsman RI
Next articleIKM Di Pasar Global, Gati: Bangun Kemitraan Dengan Industri Besar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here