Beberapa Alasan Susah Move On Bila Putus Cinta

Ilustrasi Putus Cinta

Jakarta, PONTAS.ID – Bila kita menghadapi suatu masalah dalam kehidupan asmara pastinya hati setiap manusia bisa down, seperti halnya putus dari pacar beberapa bulan atau beberapa tahun yang lalu, kita masih sulit untuk melupakan dan move on dari dia. Padahal banyak teman-teman, kerabat atau bahkan orang tua yang mencoba untuk menghibur atau mencoba membantu mencarikan seseorang pengganti si dia.

Meskipun sudah mencoba untuk move on dengan melakukan berbagai macam cara, ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk lepas darinya. Dilansir dari Huffingtonpost, terdapat beberapa alasan yang membuatmu sulit move on, apa saja?

Ego yang tinggi, Setelah putus, kita sering kali berpikir dan bertanya-tanya mengenai diri sendiri dan hubungan yang terjalin sebelumnya, ‘Apakah selama ini aku bukan tipe yang diinginkan pasangan?’ atau ‘Apakah ada yang salah dengan diriku?’. Pertanyaan-pertanyaan bahwa diri kita tidak pantas dan terus menerus muncul di pikiran akan membuat proses pemulihan setelah putus menjadi lebih lama.

Seringkali kita menyalahkan diri sendiri, Setelah putus, pikiran kita akan mencoba untuk menganalisa segala sesuatu yang telah kita katakan dan kita lakukan selama berpacaran serta mencari-cari alasan kenapa kita melakukan hal tersebut. Lama kelamaan kita akan merasakan rasa bersalah dan menyalahkan diri kita sendiri karena telah menghancurkan sebuah hubungan.

Setelah itu, kita akan mulai berandai-andai, ‘Seandainya dulu saya melakukan A daripada B’ dan lain sebagainya. Penting bagi kita untuk berhenti memikirkan hal-hal negatif dan menyalahkan diri sendiri agar bisa move on dari pasangan.

Cinta adalah candu, Penelitian yang dilakukan oleh Helen Fisher menunjukkan bahwa terdapat reaksi kimia yang disebabkan oleh perasaan cinta di dalam otak yang mempunyai reaksi sama seperti obat-obatan terlarang. Sama seperti obat-obatan terlarang, ketika kita lepas dari orang yang kita cinta, maka kita akan terus memikirkan tentang mantan yang masih kita cintai tersebut.

Kehilangan seseorang yang telah menumbuhkan emosi positif dan koneksi jiwa akan membuat diri kita terkungkung dengan masa lalu.

Putus dapat menimbulkan stress, Jika kamu mengalami sulitnya percaya terhadap orang lain, kecemasan, mimpi buruk, dan ingatan tentang masa lalu yang berlebihan, serta berkurangnya waktu tidur setelah putus, maka kamu bisa saja mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Meskipun ini dianggap berlebihan, seseorang dapat mengalami PTSD setelah putus, karena tidak semua orang mampu mengatasi keterpurukan setelah putus.

Takut penolakan, Setiap manusia punya naluri untuk merasa terlibat dalam satu golongan atau satu tempat. Ketika kita tidak bergabung dengan golongan manapun, maka kita akan merasa tertolak. Penolakan dalam jangka waktu yang panjang akan berpengaruh terhadap kondisi psikologi dan fisik kita.

Meskipun benar bahwa penolakan dapat menimbulkan rasa sakit, namun sebenarnya efeknya hanya berpengaruh kepada beberapa bagian aspek dalam hidup kita saja. Pikiran kita terlalu sibuk untuk menghindar penolakan tersebut sehingga sulit bagi kita untuk melepas masa lalu.

Daripada hanya memikirkan kesakitan yang kita alami, anggap saja ini sebagai kesempatan bagi kita untuk belajar dan bertumbuh.

Previous articleSakit Hati, Alena Seredova: Sepertinya Saya Tidak Bakal Menikah Lagi
Next articlePrabowo Tak Deklarasi Capres di Rakornas Partai Gerindra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here