Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menerima kunjungan Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman Djohan di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (27/3).
Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, pagi tadi Erzaldi bertandang ke kantornya membicarakan lada. “Beliau mau kembangkan lada. Sudah ada 45 ribu hektare,” katanya, melalui keterangan tertulis Humas pada PONTAS.id, Selasa (28/3/2018).
Dalam pertemuan itu, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman memaparkan keiginannya bagaimana mengembangkan dan menggali potensi perkebunan lada.
Hal itu disambut baik Menteri Pertanian (Mentan) RI Amran Sulaiman, berjanji akan memprioritaskan pengembangan lada ke Babel.
Amran menyampaikan, akan membantu Erzaldi dalam mewujudkan visinya itu. Terlebih, Erzaldi sudah mengembangkan lahan lada seluas 45 ribu hektare di Bangka Belitung.
Seperti diketahui, saat ini atas perintah Presiden, pemerintah berupaya mendorong kembalinya kejayaan rempah-rampah di tanah air. Anggaran sebesar Rp 2,7 triliun untuk tahun ini telah disiapkan untuk perkebunan, hortikultura dan rempah.
Keinginan Gubernur Babel tersebut sejalan dengan keinginan pemerintah agar pengembangan pertanian dapat fokus berdasarkan keungulan komparatif daerah.
Bantuan pun diberikan Kementan untuk pengadaan benih sekitar dua juta batang untuk 2.000 hektare lahan.
Berdasarkan laman Kementan, pada Desember 2017 lalu, ekspor lada dari Indonesia ke India sebesar 248.500 kg senilai lebih dari satu juta dolar AS. Sedangkan ekspor pada Januari 2018 menurun di angka 189.970 kg atau setara 887.757 dolar AS.
Amran menilai sikap Gubernur Erzaldi sangat serius dalam mengembangkan lada. Rencananya Amran akan mengunjungi Babel untuk melepas ekspor perdana lada dari Babel. Sedangkan untuk peternakan sapi, disarankan agar fokus pengembangan inseminasi buatan.
Amran berharap Bangka Belitung bisa menyusul prestasi yang diraih Gorontalo. Namun jika Gorontalo provinsi jagung, sedangkan Babel dikenal sebagai provinsi lada. Babel telah diberikan kelebihan alam dengan potensi agroklimat yang belum tentu dimiliki daerah lain.
Editor: Idul HM

























