Kontak Senjata dan Bentrok Massa Paling Banyak Terjadi di Papua Sepanjang 2017

Jakarta, PONTAS.ID – Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan, terjadi peningkatan tindak kejahatan berimplikasi kontijensi (keadaan yang sulit diprediksi), seperti kontak senjata, bentrok massa, unjuk rasa anarkistis, dan penyerangan markas Polri.

Berdasarkan data yang dihimpun Polri dalam setahun Polri, 48 kejadian atau 47 persen dari seluruh kejahatan berimiplikasi kontijensi terjadi di wilayah Polda Papua.

“Kontak senjata paling banyak di Papua dan Poso, Operasi Tinombala. Bentrok massa juga banyak terjadi di Papua,” ujar Tito dalam paparan Kinerja Polri 2017 di Ruang Rapat Utama Mabes Polri, Jakarta, Jumat (29/12/2017).

Jumlah tersebut terdiri dari 34 kontak senjata, 12 kasus bentrok massa, satu kasus penyerangan markas Polri, dan satu kejadian unjuk rasa anarkistis.

Di Papua, kontak senjata paling banyak terjadi di sekitar area Freeport sebanyak 14 kali, di Puncak Jaya 10 kali, di Mimika 10 kali, di Lanny Jaya empat kali, dan di Nduga satu kali.

Kontijensi di Papua meningkat dalam beberapa bulan terakhir, bermula dari penyerangan kelompok kriminal bersenjata terhadap anggota Polri di area Freeport.

Puncaknya, terjadi penyanderaan 1.300 warga Desa Banti dan Kimbely di Timika, Papua. Sebagian warga akhirnya diungsikan ke kota, sementara sebagian lainnya memilih menetap.

Secara umum, empat jenis kejahatan yang berimplikasi kontijensi mengalami peningkatan 18 persen dibandingkan tahun lalu. Pada 2016, terjadi 88 kejadian dan tahun ini sebanyak 104 kejadian.

“Peningkatan terjadi pada kejadian kontak senjara dan penyerantan Mako Polri. Sedangkan kejadian bentrok massa mengalami penurunan,” kata Tito.

Pada 2016, jumlah kontak senjata sebanyak 10 kasus dan naik 240 persen menjadi 34 kasus pada 2017. Untuk kejadian bentrok massa, penurunan sekitar 18 persen, dari 60 kasus menjadi 49 kasus.

Untuk kejadian unjuk rasa anarkistis, jumlahnya tetap dalam dua tahun terakhir, yakni tujuh kasus. Sedangkan penyerangan markas Polri meningkat 27 persen, dari 11 kasus pada 2016 menjadi 14 kasus pada 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here